Beritahati.com, Jakarta - Penyebab sindrom patah hati adalah tekanan emosional, seperti kekerasan dalam rumah tangga, kehilangan pekerjaan, perceraian, diagnosa penyakit serius, kehilangan uang banyak tiba-tiba, hingga pertengkaran.


Selain itu, sindrom patah hati juga dapat disebabkan oleh tekanan fisik, termasuk serangan asma atau aktivitas fisik yang menguras energi.


Ciri-ciri utama sindrom yang disebut juga takotsubo cardiomyopathy ini adalah nyeri dada dan sesak napas. Orang yang mengalami sindrom patah hati mungkin mengira ia sedang mengalami serangan jantung karena nyeri dada yang tiba-tiba.


Tetapi berbeda dari serangan jantung, sindrom patah hati tidak disebabkan oleh penyumbatan pembuluh arteri jantung.


Beratnya beban pikiran menyebabkan pelepasan hormon secara tiba-tiba dalam jumlah besar ke dalam aliran darah. Inilah yang dapat menyebabkan jantung kewalahan untuk sementara, sehingga menyebabkan sindrom yang menyerupai serangan jantung ini.


Beberapa penelitian juga menemukan, stres yang sangat berat dapat menyebabkan ketegangan dan penyempitan arteri koroner sesaat. Selain itu, meski jarang terjadi, konsumsi obat tertentu seperti obat untuk menangani alergi, asma, dan depresi, dapat pula menyebabkan sindrom patah hati.


Perempuan Lebih Berisiko
Sindrom ini dapat menyerang siapa saja, bahkan saat kamu sedang sehat. Meski dapat terjadi pada siapapun, ada orang-orang yang lebih berisiko mengalami sindrom ini, yaitu :


Perempuan.
Berusia lebih dari 50 tahun.
Sedang atau pernah mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi atau kecemasan.
Memiliki riwayat gangguan saraf, seperti epilepsi ataupun cedera kepala.


Sumber : Alo Dokter