Beritahati.com, Jakarta - Sebelum menjabat sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) menggantikan Teten Masduki, Moeldoko terlebih dahulu menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2017 hingga 2020.


Pengukuhan Moeldoko dilaksakan pada pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) HKTI tahun 2017 silam.

Dunia pertanian bukan hal asing baginya. Ia adalah anak seorang petani. Oleh karena itu, seusai meninggalkan dinas keprajuritan, ia pun memilih menjadi petani. Pengalaman sebagai anak petani itulah yang ia jadikan sebagai modal dalam memimpin HKTI.


Selama menjabat sebagai ketua HKTI, Moeldoko berharap organisasi yang dipimpinnya tersebut bisa menjadi mitra strategis dan positif pemerintah dalam hal ketahanan pangan bagi rakyat dan pemerintah Indonesia pada khususnya.


Harapan baru bagi rakyat, bagaimana mewujudkan kesejahteraan, harapan pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan dalam rangka ketahanan pangan.


Dalam sebuah kesempatan, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, pernah memuji Moeldoko sebagai Ketua Umum HKTI yang telah berbuat banyak untuk pertanian Indonesia.


“Seandainya ada 100-200 jenderal seperti Bapak Moeldoko yang turun ke pertanian, bisa bergetar ini Indonesia,” kata Amran dalam acara syukur panen di Desa Karang Layung, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (23/11/2017).


(BACA JUGA) Panglima Tani Moeldoko, Anak Dusun yang Jadi Negarawan (Resensi-1)


Selain bertani, Moeldoko juga banyak melakukan aktivitas bisnis. Salah satu bisnis inovatif dan visionernya adalah mendirikan pabrik bus bertenaga listrik. Bus buatan dalam negeri ini diberi label MAB (Mobil Anak Bangsa).


Sebagai pemilik, ia berencana memberikan 5 persen saham PT Mobil Anak Bangsa (PT. MAB) untuk anak Indonesia yang siap berkontribusi dalam mengembangkan teknologi di era modern saat ini.


Meski tak banyak tersiar, Moeldoko juga aktif di ranah ekonomi syariah. Bersama putranya, ia mendirikan fintech syariah yang berorientasi membantu pelaku bisnis UMKM. Dan ia juga merupakan Wakil Ketua Dewan Pembina Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).


Itulah kisah menarik tentang Moeldoko yang tampil dalam buku berjudul 'Pangklima Tani Moeldoko (Anak Dusun yang Jadi Negarawan)'.


Menilik dari perjalanan hidup dan kehidupannya sejak kecil hingga sekarang menjadi KSP, cukup tergambar bahwa ia merupakan seorang pejuang yang gigih dan tangguh, serta sekaligus menjadi sosok negarawan yang sangat peduli terhadap bangsa dan negara.


Salah satu filosofi hidup yang ia pegang teguh adalah “Urip iku urup”. Hidup itu harus menghidupi.


Intinya, hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain, baik itu berupa hal-hal kecil maupun hal besar. Filosofi Jawa tersebut menjadi pegangan hidup Moeldoko. Jenderal bintang empat ini juga berprinsip, bahwa hidup harus bermanfaat bagi orang lain.


“Setiap hari harus memberikan manfaat,” ujarnya.

Satu hal yang harus disampaikan bahwa buku yang ditulis oleh Yayat Supriyatna dan Guntur Subagja ini merupakan suntingan dan pengolahan dari kumpulan berita atau dokumentasi jurnalistik yang telah tersiar pada berbagai media massa dalam kurun lima-enam tahun terakhir.


Jadi, sekali lagi, Buku 'Panglima Tani Moeldoko' ini bukan merupakan karangan atau karya ilmiah orisinal, melainkan lebih sebagai catatan rangkaian berita dan informasi yang sudah tersiar di publik.


Perlu juga diinformasikan bahwa sejauh ini belum ada buku khusus mengenai Jenderal TNI (Purn) Dr H Moeldoko yang diterbitkan baik yang berupa biografi maupun jenis lainnya.


Sumber Resensi :


'Panglima TANI Moeldoko (Anak Dusun yang Jadi Negarawan)'
Penulis : Yayat Supriyatna & Guntur Subagja.