Beritahati.com, Bantul - Seorang terduga teroris ditangkap usai Salat Ashar berjamaah di Masjid Al Falah, Kerto, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (11/7/2018).


Kejadian itu mengagetkan warga sekitar, karena meskipun jarang bergaul dengan tetangga, namun terduga teroris bernama G (Gutomo) dikenal rajin salat jamaah di masjid tersebut. Belakangan diketahui, pria berjenggot ini berprofesi sebagai pembuat panah untuk jaringan teroris.


Rohadi, salah satu tetangga Gutomo menceritakan, penangkapan tersebut terjadi sesaat setelah Gutomo keluar dari masjid.


Warga yang rumahnya berada hanya bebrapa meter dari masjid itu mengungkapkan, bahwa Gutomo keluar dari masjid hendak pulang mengendarai sepeda motor. Namun kemudian dihadang sejumlah polisi membawa senapan.


Kepala terduga teroris berambut panjang sebahu itu lalu ditutup menggunakan kain dan dibawa ke mobil polisi. Proses penangkapan menurutnya berlangsung cepat.


"Saya kira polisi mengejar buronan maling atau apa, saat saya lihat ternyata kok orang itu (Gutomo) yang ditangkap," katanya saat ditemui Beritahati, Kamis (12/7/2018).


Rohadi menjelaskan Gutomo setiap salat jamaah di masjid tersebut jarang sekali absen. Bahkan terduga teroris ini sering membawa kedua anaknya yang masih usia sekolah dasar ikut berjamaah.


Meski begitu, Rohadi menyebutnya jarang menyapa tetangga atau orang di sekitar masjid atau jamaah yang lain. Bahkan di lingkungannya, pria yang sempat memperkenalkan diri berasal dari Karangkajen Yogya itu jarang bergaul.


Seusai salat biasanya jamaah bersalaman, namun Gutomo yang selalu menggunakan celana cingkrang itu tidak demikian.


"Ya kalau ada yang ngajak salaman dia baru salaman, itu saja tidak melihat orang yang ngajak salaman," ungkapnya.


Gutomo tinggal di RT 09, RW 08, Kerto Tengah, Pleret, Bantul sejak tiga tahun yang lalu. Rumah kontrakan yang berada sedikit tersembunyi di tengah pemukiman warga ditinggali Gutomo bersama dua anak dan istrinya bernama Tri Mulyani.


Sang istri selama ini diketahui bekerja sebagai penjahit pakaian. Ibu RW 08 Dusun Kerto Tengah, Nur Habibah mengatakan, Gutomo setiap harinya bekerja sebagai pembuat panah.


Namun panah buatan Gutomo dijual secara online dan tidak dipasarkan di sekitar tempat tinggalnya. Saat penangkapan itu, sejumlah busur, anak panah, dan peralatan untuk memproduksi panah juga dibawa polisi.


"Satu gepok anak panah dibawa polisi," ucapnya.


Nur membenarkan bahwa Gutomo mengontrak sebuah rumah di dusun tersebut. Rumah berukuran sekitar 4x6 meter itu belum diplester dan berada di samping gang kampung. Nur tak menyangka Gutomo bakal ditangkap. Dia tidak mengetahui terduga teroris tersebut dibawa kemana oleh polisi.


"Tidak tahu dibawa kemana. Cuma pas dibawa itu, (Gutomo) kepalanya ditutup tapi tangannya tidak diborgol," pungkasnya.