Beritahati.com, Denpasar - Mantan Wakil Bupati Klungkung, Dewa Gede Sena, kembali ke kancah politik. Pejabat era Bupati Tjokorda Gde Ngurah ini kembali melontarkan wacana pembangunan kasino di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Ia menjelaskan, spirit awalnya adalah keinginan untuk membangun pariwisata Bali secara holistik.


“Kita ingin mewujudkan Nusa Penida sebagai new destination tourism. Bali selama ini hanya mengandalkan pariwisata budaya. Pariwisata budaya itu cenderung statis, tamu bisa bosan. Saya punya keinginan mengawinkan pariwisata budaya dengan teknologi, dalam artian entertainment yang difokuskan di Nusa Penida,” kata Dewa Sena, Jumat (27/7/2018).


Menurut dia, selama ini Indonesia, khususnya Bali, sesungguhnya memiliki mesin penghasil devisa yang belum dioptimalkan dengan baik. Mesin penghasil devisa itu tak lain adalah membangun kasino di kawasan Nusa Penida. Baginya, kasino merupakan mesin pendulang devisa yang cukup besar bagi negara. Sesungguhnya, wacana membangun kasino pernah dilontarkannya semasa ia menjabat sebagai Wakil Bupati Klungkung pada medio tahun 2000-an. “Waktu itu muncul pro dan kontra. Tapi belum sampai pada realisasi, masa bakti saya sudah selesai. Sekarang, sebagai masyarakat biasa, saya kembali mendorong realisasi pembangunan kasino di Nusa Penida,” terang dia.


Ia mengambil contoh Malaysia, di mana Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang sukses membangun zona khusus untuk permainan kasino di kawasan Genting. “Malaysia bisa, kenapa kita tidak. Di Nusa Penida ini bisa dibangun kasino itu dan diberlakukan zonasi kewilayahan. Misalnya di mana zonasi untuk kasino, zona spiritual dan zona pemukiman masyarakat,” ujar Dewa Sena.


Soal urgensi pembangunan kasino di Nusa Penida, Dewa Sena menilai amat penting lantaran dapat menciptakan pasar baru yang diinginkan oleh turis. Dengan membangun kasino, Dewa Sena yakin semua segmen tamu akan terserap oleh pariwisata Bali.


Selama ini, tamu yang memiliki minat terhadap dunia hiburan kasino memilih berwisata ke Malaysia, Singapura atau Makau, Hong Kong. “Mereka ke Malaysia, Singapura atau Makau untuk entertainment, karena di sini hanya pariwisata budaya. Kalau entertainment ada di Bali, maka semua bisa terserap di sini,” papar dia.


Ia tak menampik akan timbul ekses, baik positif maupun negatif. Katanya, hal itu wajar sebagai konsekuensi logis dari sebuah pembangunan. “Oleh karena itu, perlu sosialisasi kepada masyarakat dampak positif dan negatif. Kita lihat kajiannya. Seperti di Malaysia dan Singapura, bagaimana dia bisa mengelola dengan baik. Kita tidak bisa membasmi judi dari muka bumi. Untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan, maka harus diatur,” tutur dia.


Sementara, mengenai lokasi yang tepat, Dewa Sena menunjuk kawasan Nusa Penida bagian selatan yang menghadap Samudera Hindia adalah daerah tepat pembangunan kasino. “Di sana jauh dari kawasan pemukiman warga dan zona spiritual,” tegasnya.
Sementara itu, Dewa Sena yakin dibangunnya kasino di Nusa Penida akan semakin banyak menarik wisatawan ke Pulau Dewata. Ia juga yakin Nusa Penida akan jauh berkembang dalam hal destinasi. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat juga akan tumbuh.


“Di Genting, Malaysia, kasino di sana ditunjang oleh 7.000 kamar hotel. Belum lagi sarana penunjang lainnya seperti restoran, toko souvenir dan lainnya. Di sanalah akan terjadi penyerapan tenaga kerja dan perputaran uang,” beber Dewa Sena.


Ia menjelaskan, tak sembarang orang yang dapat masuk ke dalam kasino. Hanya mereka yang memiliki member saja yang bisa masuk ke dalamnya. Sehingga, kekhawatiran akan terjadi degradasi moral warga Bali akibat pembangunan kasino minim terjadi, lantaran kawasan itu hanya zona khusus bagi para pengusaha besar dunia yang memang memiliki hobi mempertaruhkan uangnya.


“Nusa Penida dengan Bali-nya sudah ikon pariwisata dunia. Investor tentu akan tertarik, karena dia tidak mengeluarkan dana promosi besar. Orang sudah tahu nama besar Bali. Barangkali kalau kasino itu diizinkan dibangun di daerah lain belum tentu investor mau, karena membutuhkan biaya besar untuk promosikan destinasi itu,” demikian Dewa Sena. (Boris/EG)