Beritahati.com, Bandung - Tim wartawan bersama mahasiswa dan rombongan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman menyusuri pabrik-pabrik yang berdiri pada lahan-lahan industri sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, Kamis (2/8/2018).

Tempat pertama yang disinggahi Beritahati dan rombongan adalah CV Perajutan Sahabat, di Jalan Mengger No.8, Mohamad Toha, KM5,6 Bandung, Jawa Barat.

CV Perajutan Sahabat masuk dalam wilayah dibawah pengawasan dan pengendalian Satgas Citarum Harum Sektor 21 pimpinan Kolonel Inf. Yusep Sudrajat.




Perusahaan yang bergerak dibidang tekstil milik Johan Halim ini sebelumnya membuang limbah berbahaya langsung ke Sungai Citarum, tanpa melakukan penanganan atas limbah. Setelah pemerintah pusat bersama pemerintah daerah melakukan penanganan menyeluruh atas pencemaran DAS Citarum, CV Perajutan Sahabat tunduk pada aturan yang ditetapkan.

Bukti keseriusan mereka adalah dengan menandatangani Surat Perjanjian bersama Satgas Citarum Harum Sektor 21, bahwa tidak akan mengulangi lagi perbuatan mencemarkan DAS Citarum dengan cara mengolah limbah pabrik tekstil terlebih dahulu agar aman, serta tidak merusak ekosistem sungai saat dibuang ke Citarum.

"CV Perajutan Sahabat milik Johan Halim ini sekarang sudah mengolah limbah bekas pabrik menjadi layak dibuang ke sungai," kata Komandan Satgas (Dansatgas) Sektor 21, Kolonel Inf. Yusep Sudrajat sambil menunjukkan dokumen surat perjanjian, didampingi Johan Halim.




Johan Halim menyatakan, dengan pengolahan limbah yang dilakukan sekarang ini di dalam pabrik, pihaknya menjamin ikan-ikan Sungai Citarum bisa tetap hidup. 

"Limbah bekas pabrik kaos kami sekarang sudah layak untuk dibuang ke sungai. Ikan juga sudah bisa hidup di dalam air," sebut Johan.

Dansatgas Citarum Harum Sektor 21, Kolonel Inf. Yusep Sudrajat juga mengemukakan, perusahaan milik Johan Halim ini sekarang sudah mampu mengubah limbah kaos tekstil dari hitam pekat menjadi abu-abu, dan setelah dilakukan tes laboratorium, aman dari bahan berbahaya yang bisa membunuh ikan, merusak ekosistem DAS Citarum.




"Ada 475 pabrik di wilayah ini, dan untuk Sektor 21 sudah kami tutup paksa sebanyak 21 pabrik. Akhirnya, 25 perusahaan langsung membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal agar pabrik bisa dibuka kembali. Sedangkan 5 pabrik sisanya masih kami tutup karena belum menyiapkan IPAL," tutur Yusep.

Perjuangan Yusep bersama seluruh anggotanya terbilang tidak mudah dalam menemukan pelanggaran-pelanggaran dari pabrik-pabrik tersebut, karena butuh waktu 1 tahun untuk menemukan semua lubang pembuangan limbah yang terkadang disamarkan oleh pabrik-pabrik 'nakal' sepanjang DAS Citarum.

Pemerintah bersama TNI dan rakyat Jawa Barat bersatu padu menyelamatkan Sungai Citarum dari carut marut pencemaran yang ternyata sudah berlangsung selama puluhan tahun, dimana praktik pencemaran ini sebelumnya terlindungi dari jerat hukum akibat ulah oknum-oknum yang membekingi pabrik-pabrik agar bisa membuang limbah dengan mudah ke DAS Citarum.


(Semua Foto : Dwiki/Beritahati)