Beritahati.com, Makassar - Kurangnya Apresiasi masyarakat terhadap benda-benda bersejarah dan budaya lokal, membuat Dinas Kebudayaan Kota Makassar kembali mengadakan Tudang Sipulung (Pertemuan) dihotel Grand Celino, sejak Senin, 6 Agustus 2018.


Dalam kegiatan tersebut hadir Kepala Bidang sejarah tradisi, Muslimin AR. Effendy dan Ery Iswary dari kalangan akademisi, serta para budayawan maupun sejarawan. Tidak hanya bertemu, kegiatan ini juga sebagai saran bertukar pikiran terkait masalah budaya dan sejarah.


Kepala Kepala Bidang sejarah tradisi, Muslimin AR menyatakan tiga hal yang membuat orang tertarik terhadap warisan budaya. Pertama, dorongan sekedar ingin mengetahui hal-hal yang mempesona atau eksotis yang terjadi di masa lalu. Kedua, mengambil pengalaman dari masa lalu orang lain. Ketiga, nilai-nila di masa lampau dianggap dapat menjadi modal peneguh identitas.


Ia menjelaskan, selama ini undang-undang dan aturan terkait warisan budaya perlu diperhatikan.


"Tahun 2010 DPR RI bersama pemerintah berupaya menata kembali aturan-aturan tentang cagar budaya". ungkap Muslimin ditemui usai Tudang Sipulung, Senin (6/8/2018).


Dirinya menambahkan, namun masalah lain juga muncul dengan diperketatnya aturan terkait warisan budaya.


"Masyarakat jadi kurang leluasa dalam melindungi benda cagar budaya, meski obyek tersebut merupakan miliknya sendiri. jadi sangat dilematis dalam pelestarian warisan budaya", lanjutnya


Sementara dosen ilmu sejarah Dr. Ery Iswary, M.Hum mengemukakan dua kata kunci yang penting dalam melindungi warisan budaya adalah pelestarian dan pengapresiasian.


"Apresisasi berhubungan dengan penghargaan, nilai-nilai lokal dalam bentuk seni yang beragam yang merupakan kekayaan kita. Mengapresiasi, melakukan sesuatu, penilaian terhadap budaya atau seni yang bersifat lokal seperti Sipakatau (saling memberi tahu), sipakainga (saling mengingatkan), siapakala'biri (saling memperhatikan), yang menandakan tidak ada perbedaan dalam kultur kita dan menjunjung tinggi Etika. Sedangkan Pelestarian berarti perlindungan dari pemusnahan atau kerusakan pengawetan, contohnya seperti di museum- museum," jelasnaya.


Akademisi dari Universitas Hasanuddin ini berharap, setelah adanya tudang sipulung, baik Dinas Kebudayaan, masyarakat dan para sejarawan serta budayawan bisa saling kerja sama dalam melindungi warisan budaya dan tempat bersejarah.