Beritahati.com, Yogyakarta - Berkunjung ke obyek wisata alam di kawasan Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, yang kini sedang viral tak cukup satu hari saja. Apalagi banyak obyek wisata alam yang bikin penasaran untuk dikunjungi.


Sejumlah obyek wisata alam mulai dari hutan Pinus Asri hingga Puncak Becici bikin wisatawan betah berlama-lama di wisata alam terbuka dan sejuk dibawah rindangnya pepohonan dan pemandangan alam yang tak bisa dilewatkan.


Bagi wisatawan yang ingin tinggal lebih satu hari, di kawasan obyek wisata alam Mangunan juga menyediakan tak kurang dari 25 home stay dengan tarif yang sangat terjangkau dan fasilitas tak kalah dari tempat menginap hotel bintang satu atau dua.


Bahkan jika wisatawan beruntung menginap disalah satu home stay kawasan Mangunan, wisatawan bisa diajak untuk belajar melukis pirografi dengan media kayu bekas mahoni.


Salah satu home stay yang menawarkan tempat singgah hingga belajar melukis pirografi dengan media kayu bekas mahoni adalah home stay Sahara yang terletak di Dusun Mangunan RT 12, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.



Home Stay yang dikelola Fahlul Mukti menawarkan sejumlah paket tinggal lengkap dengan lukis api, belajar masak masakan tradisional, hingga mengenal bahan-bahan jamu tradisional sampai cara membuat jamu siap minum.


Semua fasilitas tersebut menjadi salah satu paket home stay yang kini diburu oleh wisatawan mancanegara. Meski demikian, wisatawan dalam negeri juga ada yang tertarik dengan paket yang ditawarkan Fahlul.


"Saya bangun home stay ini sejak 2016 dan hanya saya batasi dua kamar saja tidak lebih," ujarnya, Rabu (8/8/2018).


Dengan tarif kamar Rp 150 ribu dan belum termasuk paket belajar lukis api setiap akhir pekan, dua kamar yang ditawarkan penuh dengan wisatawan terutama dari mancanegara seperti Inggris atau Australia.


"Turis mancanegara itu yang dicari bukan kemewahan kamar home stay, namun budaya lokal yang lebih mereka butuhkan," ujarnya.


Hal-hal tradisional seperti mengenal bahan empon-empon (tumbuhan untuk membuat jamu), belajar lukis api dengan gambar sesuai keinginan wisatawan asing menjadi daya tarik untuk berkunjung.


"Masalah makanan untuk wisatawan asing sebenarnya bukan masalah, karena mereka juga ingin mencoba makanan tradisional daerah tujuan wisata plus santap makan di ruang makan keluarga membuat mereka semakin betah," ucapnya.


Keakraban yang tercipta antara tamu wisatawan asing dengan pemilik home stay menjadi modal untuk menawarkan berbagai paket yang dimiliki.


"Dari awal kita ada yang sudah menawarkan home stay plus paket lainnya namun terkadang kita dadakan saja menawarkan paket tambahannya dengan biaya yang juga murah," kata pria yang hanya lulusan sekolah dasar ini.


Dengan keahliannya sebagai pelukis api, suami dari Mrihastuti ini selalu menawarkan paket melukis api dengan media kayu bekas mahoni kepada wisatawan yang sedang santai usai santap makan dan sedang bercengkerama di gasebo.


"Ketika wisatawan melihat hasil karya saya yang dipajang, mereka tertarik mencoba untuk melukisnya apalagi medianya hanya dengan kayu bekas dan telah dibuat pola sesuai keinginan pelukisnya," ucapnya.


Untuk belajar lukis api, kata ayah dua anak ini, wisatawan hanya dikenakan biaya Rp 50 ribu dan hasil karyanya bisa dibawa pulang untuk kenang-kenangan atau boleh ditinggal di home stay yang juga berfungsi sebagai galeri lukisan.


"Banyak hasil karya wisatawan asing yang ditinggal meski mereka telah lunas membayar,"ungkapnya.


Sementara itu, Mrihastuti, istri Fahlul Mukti menyatakan, wisatawan yang banyak menginap di home stay sebagian besar adalah para wisatawan mancanegara yang ingin melihat budaya dan tradisi masyarakat serta bergaul dengan masyarakat minimal keluarga pemilik home stay.


"Mereka sangat tertarik dengan kehidupan sosial di masyarakat pedesaan yang sangat jauh dari pola hidup di tempat tinggalnya. Mereka juga penasaran tentang masakan tradisional hingga membuat obat alami atau jamu," ucapnya.


Tuti mengaku wisatawan yang datang ke home stay yang dikelolanya bersama sang suami biasanya dibawa oleh biro perjalanan yang sudah dikenal cukup lama dan sudah menjadi langganan.


"Kita tidak pernah promosi besar-besaran karena kamar home stay juga cuma dua jadi promosinya ya hanya dari mulut ke mulut saja," tuturnya.‎