Beritahati.com, Jakarta - Akhir dari sebuah teka-teki politik pemilihan Presiden berakhir dengan kejutan pada detik-detik pengumuman calon Presiden masing-masing. Bagaimana tidak, sontak publik dikagetkan dengan keputusan calon Presiden Prabowo dan Jokowi yang selama ini tidak diprediksi sebagai kandidat kuat.


Meskipun nama Ma'aruf Amin sempat disinggung menjadi cawapres Jokowi namun namanya tidak ramai dibicarakan seperti Moeldoko, Mahfud MD dan TGB. Begitupun dengan Prabowo, selama ini publik melihat komunikasi politiknya lebih bersafari dengan keluarga cikeas. AHY, UAS, dan Salim Segaf, ketiga nama ini sering dikaitkan dengan nama Prabowo. Namun, semua peta politik dipatahkan oleh hadirnya Sandiaga Uno sebagai pendamping Prabowo di pemilu 2019.


Proses komunikasi politik yang belum final dengan partai koalisi lain menghebohkan Partai Demokrat, keputusan politik Prabowo yang lebih mementingkan uang dari pada perjuangan ini membuat kedua kubu saling berbalas pantun, Jendral Kardus Vs Jendral Baper.

Kandidat Non-partai, salah satu faktor evaluasi politik diinternal koalisi indonesia kerja agar tidak menimbulkan konflik politik antara koalisi.
Kehadiran Ma'aruf Amin mendampingi Jokowi pasti dengan kalkulasi politik yang sangat besar. Dalam analisa politik hari ini, kehadiran Ma'aruf Amin untuk mewakili populis islam dan basis 212. Kenapa tidak, selama masa transisi kepemimpinan Jokowi kerap dikaitkan dengan isu yang tidak sedap, isu sara, intoleransi, PKI, diskriminasi agama, dll.


Melalui kekuatan politik basis elektoral umat yang dimiliki oleh Ma'aruf Amin akan mematahakan isu-isu yang menyerang pemerintahan Jokowi selama ini, elektoral Jokowi-Ahok gaduh dengan hadirnya Ma'aruf Amin. Isu nama Mahfud MD paling nyaring dan mendapatkan respon yang sangat baik dikalangan masyarakat ketika menjelang pengumuman capres Jokowi.


Alhasil semuanya dikejutkan dengan keputusan Pakde yang membuat publik kaget. Banyak masyarakat pendukung Jokowi-Ahok kecewa dengan keputusan tersebut. Bagaimana tidak, nama Ma'aruf Amin salah satu aktor yang paling getol untuk mengadili Ahok pada kasus penistaan agama. Kekecewaan ini besar di kalangan pendukung Jokowi-Ahok hingga narasi golputpun heboh.


Hari ini, narasi politik Jokowi-Ahok pada saat menjabat DKI satu akan terulang pada Pemilihan Presiden kedepan dalam satu frame yang sama.


Pada saat Jokowi-Ahok DKI satu, narasi tolak ahok terdengar nyaring, meskipun akhirnya tidak peduli dengan Ahok yang penting Jokowi. Begitu pun dengan Jokowi-Maaruf Amin, tidak penting Capresnya yang penting Presidennya.


Hijrah politik Sandiaga Uno sama seperti Jokowi, dalam pertarungan politik menajemen logistik adalah faktor utama dalam pertarungan konstelasi politik. Sandiaga Uno memiliki segudang manajemen logistik politik yang sangat besar bahkan pada proses pilkada DKI Jakarta, Sandiaga Uno sangat besar mengeluarkan logistiknya dalam memenuhi mesin politiknya bersama Anies Baswedan. Kalkulasi politik inilah yang membuat Prabowo menarik Sandiaga Uno mendampinginya.


Hitungan politik Sandiaga Uno untuk menuju kekuasaan lebih tinggi mungkin beracu pada proses politik Jokowi dari Gubernur menjadi Presiden.
Namun, proses hijrah ini tidak mudah untuk Sandiaga Uno, karena secara perolehan elektabilitas dalam jabatan publik masih jauh dari Jokowi dan kerap kali Sandiaga Uno mendapatkan respon yang kurang baik dalam mengelola DKI Jakarta. Lalu, narasi tidak becus memimpin Jakarta akan memimpin Indonesia pasti akan cukup besar.


Lihainya Jendral Kardus dari Jendral Baper meskipun Mahfud MD merupakan korban politik dari last minute koalisi Indoesia kerja, namun tetap berjiwa besar menanggapi hal tersebut. Dalam persoalan yang sama, Partai Demokrat juga merupakan korban politik Prabowo pada saat mengumumkan Capresnya. Partai Demokrat yang memiliki ambisi politik untuk menyeret nama AHY sebagai capres Prabowo dipatahkan dengan isu kuatnya nominal 500 Miliar dari Sandiaga Uno. PKS yang bersikeras merekomendasikan Capresnya dari kalangan Ijtima Ulama terlihat bungkam ketika nama Sandiaga Uno disahkan. Apa iya karena logistik 500 Miliar?


Lalu, Partai Demokrat kemana? Ke Prabowo diPHP-in, Ke Jokowi mempunyai hubungan baik, namun disisi lain butuh jiwa besar dan kerendahan hati untuk meminta restu dari Megawati.