Beritahati.com, Jakarta - Merebaknya kabar adanya anak usia Sekolah Dasar (SD) yang menjadi bandar sabu di Makassar, Sulawesi Selatan, membuat Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama di Kemenko PMK, Prof. Agus Sartono, merasa prihatin bercampur geram. Menurut Prof. Agus, peristiwa pilu itu terjadi karena kelalaian keluarga, pihak sekolah, dan aparatur penegak hukum. "Kita tidak bisa menimpakan kesalahan ini pada salah satu pihak saja," ujarnya di Jakarta, Jumat (10/08/18).


Pilar utama untuk melindungi anak-anak, menurut Prof. Agus, adalah keluarga. Orang tua memegang peran sangat penting. Guru Besar ini menyayangkan para orang tua yg berdalih sibuk mencari nafkah untuk keluarga dan mengabaikan peran mereka sebagai pendidik dan pelindung anak. "Saya sudah sering mendengar, anak-anak yang bermasalah itu umumnya jarang mendapatkan kehangatan pelukan keluarga," tutur Prof. Agus yang sepanjang karirnya berada di lingkungan dunia pendidikan itu.


Sebagai pendidik, Prof. Agus mengingatkan bahwa orang tua dan guru, rumah dan sekolah, bekerja sama mendidik anak. "Jangan karena sudah disekolahkan, orang tua lepas tangan dan menyerahkan urusan pendidikan ke sekolah," ia menambahkan.


Orang tua, katanya, tetap punya tanggung jawab dalam pendidikan, terutama pendidikan karakter dan budi pekerti. Pada sisi lain, pihak sekolah juga jangan pula merasa kewajibannya cuma sebatas memberikan materi di kurikulum resmi. "Keluarga dan sekolah harus saling melengkapi, memberikan pendidikan karakter dan budi pekerti," Prof. Agus menambahkan. (Yurike/EG)