Beritahati.com, Jakarta - Peristiwa tertangkapnya seorang anak usia Sekolah Dasar (SD) karena kedapatan mengedarkan narkotika jenis sabu di Makassar, Sulawesi Selatan, menimbulkan rasa keprihatinan bercampur kegeraman. Berbagai pihak pun meminta agar aparat penegak hukum, dalam hal ini kepolisian, untuk segera mengusut tuntas dan membongkar jaringan narkotika di Tanah Air, utamanya yang menyasar pada anak-anak usia dini.


Deputi bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Prof Agus Sartono, termasuk salah satu pihak yang merasa prihati sekaligus geram dengan peristiwa di Makassar, Sulsel. Menurutnya, peristiwa memilukan itu terjadi karena kelalaian keluarga, pihak sekolah dan aparatur penegak hukum. "Kita tidak bisa menimpakan kesalahan ini pada salah satu pihak saja," tuturnya di Jakarta, Jumat (10/08/18).


Dikatakan Prof. Agus, saat ini, pemerintah terus berupaya tanpa henti meningkatkan kualitas pendidikan. Upaya pemerintah tersebut, katanya, perlu disambut dengan dukungan dari keluarga dan kelompok guru, "Kita semua harus terus gotong royong mencapai penyelenggaraan pendidikan yang lebih baik, termasuk menyingkirkan narkoba dari lingkungan sekolah," ujarnya penuh semangat.


Lebih lanjut dikatakan Guru Besar Ilmu Ekonomi UGM ini, dalam jangka pendek, bahaya narkoba, perlu dihadapi dengan sungguh-sungguh. "Harus dipahami, pengedar kecil narkoba dan pemakainya pasti rusak, ekonominya melarat dan otaknya rusak. Jadi, jangan pernah terpedaya oleh rayuan bandar yang mengajak Anda untuk menjadi pengedar, kalkulasinya sangat tidak rasional dan merusak," tandasnya.


Menindaklanjuti kasus sabu di Makassar itu, Prof. Agus berharap agar jaringan narkoba yang memanfaatkan anak-anak ini dibongkar dan pelakunya ditangkap. Kejahatan mereka, kata Prof. Agus, lebih besar dari kasus narkoba biasa karena membidik anak-anak menjadi korban. "Jadi, tolong agar unsur mengorbankan anak-anak itu dijadikan faktor pemberat dalam proses peradilan. Mereka harus mendapat hukuman yang setimpal," pungkas Prof. Agus. (Yurike/EG)