Beritahati.com, Jakarta - Berdasarkan data yang didapat Komisi X DPR RI saat kunjungan kerja ke Lombok 1-3 September 2018 kemarin, terdapat 977 sekolah dan satuan pendidikan yang terdampak gempa. Sebanyak 3.655 ruang kelas rusak, 1.806 diantaranya rusak parah, 891 rusak sedang, dan 958 rusak ringan.


Gempa berkekuatan 7 skala Richter pada 5 Agustus 2018 dan disusul 6,9 skala Richter pada 19 Agustus, menyebabkan 40.225 siswa dan guru mengungsi.


“Namun, karena beberapa kali gempa dan rawannya bangunan sekolah yang ambruk akibat gempa, hampir semua sekolah meliburkan siswa,” kata Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Abdul Fikri Faqih, Selasa (4/9/2018).


Selain itu, banyak korban gempa yang trauma tinggal di dalam rumah atau bersekolah di dalam gedung, karena kuatir roboh. Hal ini menyebabkan bisa dibilang seluruh siswa dan perangkat pendidikan di Lombok terdampak. Bila demikian, jumlahnya diperkirakan mencapai 145.452 siswa terdampak.


Saat ini aktifitas belajar mengajar dilakukan di bawah tenda-tenda darurat. Menurut data pos pendidikan gempa lombok, dibutuhkan setidaknya 557 tenda sekolah darurat beserta 557 perlengkapan belajar. Update terakhir tenda sekolah darurat baru ada 112 buah, sedangkan yang terpasang baru 45 buah. Sedangkan paket sekolah baru ada 5000 paket, dan yang terdistribusi baru 1.200 paket.


Melihat kondisi tersebut di atas, Fikri mendesak pemerintah segera menyalurkan bantuan pendidikan yang dibutuhkan.


“Jadi tolong, jangan lakukan pencitraan lagi soal pemerintah yang dermawan, segera buktikan saja dengan riil,” pungkas Politisi PKS tersebut.