Beritahati.com, Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) rusuh, diserang demonstran yang kurang suka dengan keputusan soal Pemilu, khususnya Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Sekitar 100 massa sejak pagi sudah berkumpul di depan gedung MK berorasi dibawah penjagaan ketat Dalmas Brimob gabungan dari Polres Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya, Jumat (14/9/2018).


Panasnya matahari yang semakin terik menjelang siang, tensi demonstras menjadi tinggi. Gelagat kurang baik rupanya diwaspadai benar oleh pihak keamanan yang langsung bersiaga dengan pagar betis pasukan Dalmas Brimob, lengkap dengan barakuda.



Massa terlihat mulai memprovokasi petugas keamanan dengan melemparkan botol air mineral, gelas air mineral dan apapun benda yang bisa dilemparkan. Sementara posisi bertahan sudah diambil oleh pihak keamanan untuk menghindari gelagat massa yang sepertinya memang ingin menerobos masuk ke gedung MK. Para security gedung dan karyawan sudah diamankan ke dalam untuk persiapan hal-hal yang tak diinginkan.


(BACA JUGA) Wakapolri : Simulasi Penanganan Rusuh MK, Bukti Polri Tidak Represif


"Kami himbau rekan-rekan demonstran tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan atau mengarah ke anarkis. Sekali lagi kami mohon perhatiannya, tolong saudara-saudara pengunjuk rasa, silakan menyampaikan aspirasinya dengan aman dan tertib," ujar Kapolres Jakarta Pusat Kombes Pol Roma Hutajulu melalui pengeras suara kepada para demonstran yang mulai kelihatan beringas.



Himbauan Kapolres tak diindahkan, malah memicu emosi beberapa demonstran yang nampak mulai menyerang petugas Dalmas Brimob dengan menabrak atau menendang tameng pelindung. Petugas nampak tak terpancing dan tetap pada posisinya. Namun setelah dilihat massa mulai bergerak maju, petugas tahu bahwa inilah saatnya mempertahankan barisan.


Komandan kompi Dalmas Brimob langsung memerintahkan negosiator Polri dan semua petugas lainnya berpindah tempat ke belakang pasukan Dalmas, yang kemudian dilanjutkan dengan perintah melepaskan tembakan gas air mata. Namun, kena gas air mata justru massa semakin beringas. Sehingga petugas mengambil langkah kedua, menyemprotkan air bertekanan tinggi untuk membubarkan barisan demonstran agar kocar-kacir.


Setelah barisan massa yang mulai anarkis itu terbelah dua, perintah selanjutnya adalah pasukan Dalmas Brimob maju perlahan, dengan tujuan membubarkan mereka dengan paksa, yang diawali dengan sekelompok kecil Dalmas Brimob mematikan api yang dinyalakan massa di tengah jalan.



Dan setelah usaha sekitar satu jam lebih, kepolisian berhasil membubarkan massa, diikuti mengamankan beberapa pihak yang memang sejak awal dipantau sebagai provokator yang memanas-manasi demonstran untuk menyerang polisi. Karena sejak awal, aksi berjalan damai sebelum kehadiran para provokator tersebut di barisan depan menggunakan pengeras suara.


Pembubaran aksi anarkis berhasil dilakukan tanpa jatuh korban, dengan disaksikan langsung oleh Wakapolri Komjen Pol Ari Dono. Gedung Mahkamah Konstitusi akhirnya dinyatakan clear, atau aman dari serangan massa anarkis.


Ternyata, itulah simulasi aparat keamanan dalam hal ini Polri, di depan gedung MK, dalam meredam aksi massa yang coba menyerang masuk gedung Mahkamah Konstitusi menjelang Pilpres dan Pileg 2019, atau jika memang terjadi pada saat pesta demokrasi tersebut berlangsung nantinya.