Beritahati.com, New York - Dalam diskusi bertajuk "Pembiayaan berkelanjutan: Tantangan dan Peluangnya" yang dipimpin oleh Erik Solheim, Direktur Eksekutif UNEP di New York, Amerika Serikat (AS), Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan menjadi salah satu pembicara dalam sebuah diskusi panel Badan PBB untuk urusan Lingkungan Hidup (UNEP), pada pekan Sidang Umum PBB.


Dalam pidatonya, Menko Luhut memperkenalkan Tropical Landscapes Finance Facility (TLFF), yaitu sebuah inisiatif yang didukung Pemerintah Indonesia dan difasilitasi oleh UN Environment, World Agroforestry Centre, ADM Capital, dan BNP Paribas.


TLFF telah meluncurkan Obligasi Berkelanjutan (Sustainable bond) dengan jumlah USD 95 juta.


“Ini akan digunakan untuk membiayai perkebunan karet secara berkelanjutan di lahan terdegradasi di Provinsi Jambi dan Kalimantan Timur. Area yang ditanami akan berfungsi sebagai zona penyangga untuk melindungi taman nasional yang terancam oleh perambahan. Sekitar 45.000 dari 88.000 hektar akan dicadangkan untuk mata pencaharian masyarakat lokal dan kegiatan konservasi. Dari kegiatan ini diharapkan dapat membuka 16.000 lapangan pekerjaan," jelasnya.



Tujuan dari kegiatan seperti ini, lanjutnya, adalah untuk menjaga keseimbangan antara kewajiban pemerintah dalam memberi lapangan pekerjaan bagi masyarakatnya, sambil melakukan perlindungan terhadap lingkungan.


Menko Luhut juga memaparkan hal lainnya, yakni perkebunan kelapa sawit. Dimana pembangunan industri sawit berkelanjutan dapat memainkan peran besar dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam pengentasan kemiskinan.


"Di Indonesia, sektor minyak sawit mempekerjakan sekitar 17,5 juta orang muda dan tua secara langsung atau tidak langsung. Melalui TLFF kami berharap tahun depan bisa mendapat satu miliar dolar AS untuk membiayai penanaman kembali perkebunan kelapa sawit skala kecil (petani)," ujarnya menambahkan.


Pemerintah, kata dia, memahami juga bahwa ada beberapa kekhawatiran tentang dampak lingkungan. Namun Indonesia terus mendorong sektor industrinya untuk menerapkan produksi minyak sawit berkelanjutan yang sesuai dengan SDGs.


“Platform kolaborasi publik-swasta seperti fasilitas pembiayaan TLFF ini membantu menerjemahkan komitmen politik untuk mencapai SDGs. Banyak instrumen dan mekanisme keuangan inovatif telah menghasilkan dampak luar biasa dengan mengintegrasikan isu-isu sosial ke dalam sistem keuangan. Namun, inovasi harus didasarkan pada tiga tujuan utama yaitu menjaga stabilitas sistem keuangan, kesejahteraan masyarakat, dan memberikan generasi muda kita sebuah lingkungan dan alam yang bersih," tandas Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.