Beritahati.com, Jakarta - Ratna Sarumpaet sudah menggelar konferensi pers, menyatakan bahwa kebohongan itu dia ciptakan sendiri. Wajah lebam akibat efek operasi plastik (oplas) dibuat seolah baru saja kena hantaman tangan-tangan kekar, kemudian memanggil semua petinggi bintang di langit, mulai Prabowo Subianto, Amien Rais, hingga kroni sekelas Fadli Zon, untuk berbagi cerita dalam kesedihan semu. 


Kebohongan itu, kata Ratna, datang tiba-tiba sebagai godaan setan, muncul di kepala juga hatinya. Dia menyesal telah berbohong di depan Prabowo Subianto dan Amien Rais.


Jadi dengan mengakui kebohongan dan meminta maaf kepada Prabowo beserta kroni-kroninya, menjadikan mantan Danjen Kopassus itu seolah tidak bersalah, juga Amien Rais, dan para suporter lainnya.


Padahal semua rakyat jadi saksi ketika Prabowo menggelar konferensi pers pasca dicurhati kebohongan Ratna Sarumpaet.


Ya, Ratna Sarumpaet telah pasang badan alias mengorbankan dirinya. Dan semua Tertipu....


Siapa tidak tahu kalau Ratna adalah seorang teater ulung, dan sesuai profesi yang pernah digelutinya tersebut, ia jelas akting lagi untuk menutupi sebuah skenario gagal.


Lho, skenario gagal apa itu?


Kegagalan Sebuah Skenario Busuk


Bersaing sehat dengan Joko Widodo (Jokowi), jelas Prabowo akan kalah. Nah, untuk bisa memenangkan Pilpres, harus dibuat skenario dan manuver dengan syarat menciptakan chaos terhadap rakyat, berontak secara histeris dengan membenci Jokowi, pokoknya histeria anti Jokowi !


Caranya gimana? Disusunlah skenario sebagai berikut :


Momentum Pilpres adalah situasi dimana mayoritas rakyat Indonesia seluruh perhatiannya tertuju pada politik. Oleh karena itu, dicarilah memori-memori kelam politik masa lalu. Mengambil momentum ritual 30 September, situasi politik dipanaskan dengan mendorong isu kebangkitan PKI.


Sehingga, viral isu kebangkitan PKI tersebut. Dimana-mana isu disuarakan. Gatot Nurmantyo jadi juru mudinya kala itu. Gatot sebagai Panglima TNI saat itu, sengaja membuat pernyataan kontroversi dan memanas-manasi TNI tentang potensi ancaman kebangkitaan PKI. Menantang TNI untuk berani atau tidak bikin acara nonton bareng (nobar) film G30S/PKI.


Kedua, dimunculkan isu Rizieq Syihab dicekal oleh pemerintah Arab Saudi atas pesanan Presiden Jokowi. Isu ini sengaja dirancang untuk mulai memancing kemarahan kelompok Islam garis keras. Kemudian puluhan ribu massa dimobilisir ke Monas, dibungkus melalui acara “Malam Doa Buat Habib Rizieq.” Di dalam acara itu juga sempat disebarkan buku tentang Jokowi dan PKI.


Setelah kedua isu tersebut digerakkan, skenario terakhir disiapkan. Memunculkan berita Ratna Sarumpaet dipukuli oleh kubu Jokowi. Memanfaatkan memori tahun 65, foto-foto Jenderal yang terbunuh, kini foto Ratna Sarumpaet yang lebam juga ditampilkan.


Mengerikan. Bagaimana tidak, memori kolektif masyarakat tentang Peristiwa G30S/PKI Tahun 1965 sengaja dimunculkan. Timses Prabowo pun mem-viralkan dan segera disambut histeris para buzzer. Para aktivis lintas angkatan juga dikumpulkan di Dunkin Donut Menteng, sebagai tempat pertemuan.


Nah, suasana politik dibangun dengan nuansa merintih-rintih, seolah telah jatuh korban kebiadaban dari penguasa. Media online seperti CNN Indonesia juga ikut-ikutan. Mulai memberitakan tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet sebagai persis dengan cara-cara PKI dulu.


Kubu Jokowi sengaja diidentikkan dengan PKI. Isu yang sejak kampanye Pilpres 2014 sengaja jadi menu utama untuk menyasar Presiden Jokowi sebagai petahana.


Namun chaos dan tumpahan histeria massa yang besar sebagai protes atas teraniayanya Ratna Sarumpaet tidak terjadi di jalanan. Rakyat Indonesia lebih memilih mengarahkan perhatian dan kecintaannya pada duka rakyat Palu dan Donggala yang terkena musibah gempa dan tsunami.


Ketika polisi berhasil mematahkan kebohongan penganiayaan Ratna Sarumpaet, buru-buru disuruhlah ia konferensi pers dengan mengorbankan dirinya untuk menutupi skenario besar yang gagal.


Hoax tak butuh klarifikasi, yang penting chaos massa sudah tumpah.