Beritahati.com, Yogyakarta - Satu dari tiga perempuan usia 15-64 tahun di Indonesia pernah mengalami kekerasan fisik atau kekerasan seksual. Bahkan 1 dari 10 perempuan pernah mengalaminya dalam 12 bulan terakhir.


Hal tersebut dikatakan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Prof Yohanna Susana Yembise di kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (9/11/2018).


Tak hanya itu, menteri perempuan asal Papua ini juga menyebut tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan saat ini sebesar 48,87 persen dibanding laki-laki mencapai 82,71 persen.


Menurutnya, ada kecenderungan perempuan setelah lulus pendidikan memilih bekerja di sektor domestik. Padahal pemerintah menargetkan pada 2030, angka kesetaraan gender dimana rasio perempuan dan laki-laki adalah sama.


“Setelah lulus perempuan banyak lari ke domestik. Yang saya sayangkan, biaya yang keluar selama pendidikan apabila semua masuk ke domestik. Tantangan saya membawa 126 juta perempuan Indoensia ke program planet 50:50 pada tahun 2030,” katanya.


Soal kekerasan pada anak, kata Menteri, kuncinya ada pada keluarga. Menurutnya orang tua harus responsif untuk melindungi anaknya jangan sampai melakukan perbuatan dan perilaku yang menyimpang.


"Jangan sampai melakukan hal yang salah dalam kehidupan mereka, seperti kebiasaan mengisap lem aibon atau zat adiktif lainnya, apalagi mengkonsumsi air rebusan pembalut,” ujarnya.


Lebih jauh Yasonna mengatakan untuk menurunkan angka kekerasan fisik dan seksual ini, kementeriannya berencana melaksanakan program untuk menurunkan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak.


“Program kita, akhiri kekerasan terhadap perempuan, akhiri perdagangan manusia dimana perempuan dan anak jadi korban, dan akhiri kesenjangan ekonomi bagi perempuan,” ujarnya.