Beritahati.com, Jakarta - Melalui akun facebook pribadinya, Luhut Pandjaitan menerangkan apa sebenarnya yang terjadi pada penutupan Annual Meeting IMF-WB 14 Oktober 2018 silam di Nusa Dua, Bali. Dan hal ini akhirnya berakhir pada keputusan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) yang menyatakan baik Luhut maupun Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati tak melakukan pelanggaran kampanye.


Sebelumnya, Luhut Pandjaitan dan Sri Mulyani dilaporkan ke Bawaslu oleh Tim Prabowo-Sandi karena dinilai melakukan kampanye dengan memberikan gesture satu jari dalam penutupan Annual Meeting IMF-WB. Bahkan mereka berniat membawa kasus ini hingga memenjarakan kedua menteri kabinet kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) tersebut.


Namun satu hal yang tak diperhitungkan oleh orang-orang Prabowo-Sandi adalah, seluruh hadirin Annual Meeting IMF-WB serta menteri kabinet kerja yang hadir saat itu sama sekali tak ambil pusing dengan politik, karena mereka membicarakan ekonomi. Begini ceritanya....


Menurut Luhut, dirinya datang ke Bawaslu RI pada 2 November 2018 sore untuk menghormati proses hukum yang ada di Indonesia. Dirinya bersama Sri Mulyani datang atas undangan Bawaslu RI untuk memberikan klarifikasi atas adanya laporan dugaan pelanggaran peraturan kampanye saat jumpa pers penutupan Annual Meeting IMF-WB tanggal 14 Oktober 2018 lalu di Bali.


"Saya menjelaskan Kepada Bawaslu bahwa acara tersebut tidak ada urusan kampanye. Yang terjadi dalam momen penutupan itu adalah luapan kegembiraan saat Madam Lagarde (Pimpinan IMF) dan Jim Yong Kim (Presiden World Bank), serta beberapa pihak lain menyatakan bahwa mereka sama sekali tidak bisa membayangkan, karena ternyata Indonesia mampu menyelenggarakan rapat tahunan IMF-WB di Bali, pada tataran kelas dunia," terang Luhut.


Menurut Luhut, kesuksesan tim panitia dalam menjalankan peran sebagai tuan rumah tersebut, mengangkat Indonesia pada standar yang lebih tinggi daripada apa yang dibayangkan sebelumnya.


"Maka spontanlah terjadi, kita bilang Indonesia nomor satu, great Indonesia. Spontan juga gestur tubuh kami mengekspresikan kebanggaan itu. Saking tenggelamnya kami dalam kegembiraan, tentu tidak sempat lagi kami memikirkan untuk berkampanye. Apalagi dihadapan kedua pimpinan lembaga internasional (Madam Lagarde dan Jim Yong Kim), yang tidak terlibat dalam tahun politik (di Indonesia)," tegas Luhut.


Siapapun yang berada dalam situasi tersebut akan merasakan kebangaan luar biasa.


"Lagipula, siapa yang tidak bangga negaranya dipuji oleh dunia internasional?" tandas Luhut.


Sebelumnya sempat diberitakan, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Keuangan Sri Mulyani akan dilaporkan ke Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) oleh kubu Prabowo Subianto, Koalisi Adil Makmur. Penyebabnya, kedua menteri itu sempat menggoreksi pose dua jari Managing Director IMF (Internasional Monetary Fund) Chistitine Lagarde saat penutupan pertemuan IMF dan World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, Minggu, 14 Oktober 2018.


Ketua DPP Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengatakan kubu Prabowo akan segera melaporkan Luhut dan Sri Mulyani terkait dugaan kampanye dalam forum pertemuan IMF dan World Bank 2018. "Segera dilaporkan nanti oleh bagian hukum dan advokasi tim Badan Pemenangan Nasional," kata Riza saat ditemui di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada Rabu, 17 Oktober 2018.


Riza menganggap tindakan Luhut dan Sri Mulyani itu tidak layak dilakukan oleh pejabat negara. Seharusnya, kata dia, seorang pejabat berperilaku netral dalam forum kenegaraan. "Pejabat itu seharusnya mampu membedakan tempatnya kampante dan membedakan tempatnya bekerja untuk pemerintah," ujarnya.


Kubu Prabowo akan melaporkan tindakan Luhut dan Sri Mulyani untuk memberikan pelajaran. Sebab, kata Riza, tidak elok bila forum internasional yang sudah dibiayai mahal oleh negara dicampuradukkan dengan kampanye.