Beritahati.com, Jakarta - Sesaat kuhentikan laju kendaraan, menepi sejenak hanya untuk memperhatikan lalu lalang kumpulan orang yang begitu banyak. Kumpulan manusia yang mengenakan baju putih atau gamis tepatnya, sorban yang melilit, kopiah putih, semuanya tampak berseragam. Cadar terlihat begitu menyolok diantara kumpulan mereka.


Teriakan takbir bersahutan, berkumandang diantara teriakan caci maki. Poster Khilafah dan tulisan arab terlihat timbul tenggelam diantara kumpulan laki dan perempuan tersebut. Yang paling menonjol adalah adanya bendera hitam diantara mereka, seolah olah bendera tersebut menari-nari diantara lantunan teriakan takbir dan caci maki.


Pagi ini, di sudut Monumen Kebanggan kita, opera "keagaman" diperlihatkan oleh mereka yang gila akan ideologi keagamaan. Wajah-wajah datar telah menjadi topeng-topeng kebencian. Sebuah Opera jalanan dengan judul "kebohongan agama" tersaji dengan luar biasa.


Kujalankan Kembali Roda Empatku.


Tidak jauh dari tempat aku berhenti sebelumnya, kulihat lagi sekumpulan orang dalam jumlah lebih sedikit dari kelompok yang tadi. Kali ini mereka terlihat tidak berseragam. Lebih beraneka ragam. Yang menyamakan mereka hanyalah ikat kepala merah putih.


Teriakan nasionalisme terdengar saling bersahutan. Wajah-wajah lelah dan letih penuh pengharapan jelas terlihat dari kelompok ini. Bendera Merah Putih yang mulai tampak lusuh berkibar diantara nyanyian lagu-lagu nasional yang terdengar sayup tertelan gemuruh suara kendaraan yang lalu lalang. Angkuhnya ibu kota seolah tidak peduli dengan pekik teriakan kelompok ini.


Hati ini bergetar, air mata ini meleleh, amarah ini seperti tersalurkan melihat kumpulan mereka. Jelas kelompok ini sedang memainkan Opera Jalanan juga, dengan judul "Melawan Kedunguan". Sebuah opera yang sebenarnya ingin dilihat oleh orang banyak untuk menyatakan isi hati mereka.


Aku tak tahan. Kularikan kendaraan dengan cepat. Kutergesa seolah ingin pergi dari beban tak terkira ini. Kuberteriak .... Lepas.


Tiba-tiba mobil tertahan lagi, tidak bisa melaju kencang, bahkan harus terhenti, hanya demi mengalah kepada rombongan yang sedang lewat. Sebuah kumpulan yang terlihat saling melempar senyum. Rombongan yang terlihat sedang mencari simpati kepada siapapun yang melihatnya. Mereka berhasil membuat macet keadaan, kemarahanku sudah sampai ubun ubun.


Dalam kemarahan, terpaksa aku melihat mereka melempar senyum kesombongan, melihat kebohongan yang keluar dari mulut mereka, yang seolah menari dalam keserakahan. Tapi sungguh aneh, ada saja orang yang tiba-tiba ikut berkumpul bersama mereka, sehingga macet semakin parah.


Yel-yel ejekan dari mereka seolah menjadi pengiring tari-tarian mesum mereka. Lagi-lagi diri ini disuguhi Opera jalanan. Berbeda dari parade opera sebelumnya, kali ini tampak seperti opera berjudul "Episode Kebohongan Bersama".


Aku muak melihat semuanya.
Kubunyikan terus klokson mobil ini agar mendapat perhatian dari mereka atau setidaknya bisa menyingkirkan orang yang bergerombol didepan kendaraanku, berharap mendapatkan jalan keluar dari kemacetan ini.


Sulit.
Lelah.
Dan butuh perjuangan hingga akhirnya aku bisa keluar dari kemacetan.


Jakarta mulai redup.
Gelap mulai menyelimuti ibu kota negara yang sedang sakit.
Jakartaku tak lagi indah.


Akhirnya Kuhentikan kendaraanku. Rasa lelah mulai mendera diri ini. Kunyalakan sebatang rokok sambil menerawang pada sebuah gedung yang katanya adalah milik rakyat. Sebuah rumah rakyat yang bukan lagi milik rakyatnya. Tanpa sadar pikiran ku melayang pada mereka didalam rumah rakyat tersebut.


Kulihat banyak kelompok orang yang sedang bersenda gurau di dalam gedung itu. Wajah mereka memancarkan kesenangan tak terbatas. Pakaian mereka seolah ber seragam. Pakaian yang mereka kenakan adalah kesombongan. Wangi tubuh mereka adalah bau keringat rakyat yang mereka peras. Percakapan dan tawa mereka adalah kesedihan rakyatnya.


Wajah-wajah mereka seolah tertutupi oleh kemunafikan. Suara-suara yang mereka keluarkan seperti sumbang lenguhan binatang yang sedang masturbasi. Garudaku di gedung itu seperti terpaku sedih melihat kelakuan mereka.  Merah Putih di gedung itu seolah tertutupi oleh lampu-lampu kemewahan yang mereka bawa.


Tiba tiba seorang pengemis membuyarkan lamunanku. Menadahkan tangan memohon belas kasihan. Seorang lelaki tua yang penuh guratan di wajahnya. Seorang laki-laki tua yang masih terlihat menyimpan pengharapan yang begitu besar lewat sorot matanya. Kuberikan 3 lembar uang berharap cukup untuk makan dia beberapa hari kedepan.


Tampak senyum tulus penuh kebahagian terpancar dari wajahnya. Terdengar suaranya lirih berkata kepada ku, "jangan pernah lelah mencintai negeri ini" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Akupun turut bahagia melihat senyum nya.
Dengan jalan perlahan, laki-laki tua itu meninggalkanku. Dalam langkahnya sekilas kulihat dia juga mengerling ke arah gedung rakyat yang sedang menjadi perhatianku. Seolah dia tau apa yang sedang bergejolak di hati dan otakku.


Lelaki tua perlahan hilang dari pandanganku.
Tiba-tiba aku seperti tersadar.
Wajah itu, Ya....wajah sang laki-laki tua barusan.
Tragedi negeri ini, Angkuhnya sebuah Orde pada jamannya
Wajah nasionalis
Pejuang yang terlupakan
Pejuang yang disingkirkan
Nasionalis yang termakan oleh Keserakahan dunia.
Seorang pejuang yang hanya bisa bertahan hidup dalam hari-hari terakhirnya


Aku berteriak
Meraung sejadi-jadinya....


Sudut Jakarta, November 2018
Tirtayasa