Beritahati.com, Jakarta - Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menginformasikan bahwa mereka sedang mengalami krisis keuangan setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memutuskan penghentian semua bantuan kepada mereka.


UNRWA sudah menetapkan total anggaran sebesar 1,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp17,4 triliun untuk operasional 2018. Namun, ketika AS menghentikan bantuan, otomatis anggaran tersebut minus 446 juta dollar AS atau sekitar Rp6,4 triliun.


Lembaga dunia untuk membantu pengungsi Palestina tersebut akhirnya dinyatakan mengalami krisis keuangan, dan mereka sedang mencari dukungan dari seluruh anggota PBB dan berhasil mendapatkan bantuan tambahan 382 juta dollar AS atau setara dengan Rp5,5 triliun.


"Saya akan sangat jujur mengatakan, saya tidak berpikir banyak orang percaya bahwa kita akan mampu mengatasi krisis $446 juta pada awal tahun," kata Kepala UNRWA, Pierre Kraehenbuehl kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Jumat (16/11/2018).


Beberapa negara yang akhirnya memberikan bantuan tambahan diantaranya dari Uni Eropa, Kuwait, Qatar, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dengan total 50 juta dollar AS.


Pemerintah AS sebelumnya menjadi kontributor terbesar yang memberikan bantuan kepada UNRWA. Namun, administrasi Trump dan Israel menentang cara UNRWA beroperasi dan menghitung jumlah pengungsi Palestina.


UNRWA dibentuk pada 1950 untuk membantu para pengungsi Palestina yang kehilangan rumah mereka akibat Perang 1948. Bantuan yang diberikan oleh UNRWA mencakup sekolah, pusat kesehatan, distribusi makanan, dan pelayanan umum.


Lebih dari 750 ribu orang Palestina melarikan diri dan diusir selama perang 1948 berlangsung. Seluruh penduduk dan keturunan Palestina dianggap oleh UNRWA sebagai pengungsi yang berhak untuk dibantu.