Beritahati.com, Jakarta - Gemar membaca buku tentang seni visual dan menggambar sejak SD, membawa pria


bernama lengkap Riyan Riyadi atau akrab disapa Popo ini untuk terjun ke dunia seni. Nama
Popo yang juga nama karakter dalam karya seninya, ternyata merupakan perwujudan diri dari
lulusan IISIP Jakarta jurusan Hubungan Masyarakat pada 2004 silam.



Riyan menjelaskan, gambar yang dia namakan popo terinspirasi dari wajahnya sendiri,
karena mirip. Awalnya dia merasa tidak bisa gambar wajahnya sendiri, tetapi teman-temannya
bisa. Berawal dari asal-asalan membuat gambar dan dinamakan 'The Popo' ternyata
membuatnya lahir sebagai seorang seniman mural.



Menerapkan seni di kehidupannya, itulah jalan yang ia pilih untuk mengisi hari-harinya di
tengah kesibukan sebagai pengajar sekaligus periset seni rupa kontemporer yang dilakukan
oleh masyarakat sosial di luar kriteria seniman.



Baginya, selain untuk berkomunikasi, seni juga telah membangun kepeduliannya pada
kehidupan sosial. Kehidupan yang menjadi inspirasi terbesar dalam tiap karyanya. Karena
kepeduliannya juga, Popo berencana membuat yayasan yang peduli pada penyakit mata, di
mana dana yang didapatkan merupakan beberapa persen dari hasil pamerannya sendiri atau
pameran bersama teman-temannya.



Mengapa mata? Ya, karena Popo menganggap motivasinya membuat karya adalah untuk
dilihat. Lantas, mengapa tidak baginya untuk peduli terhadap mata? Begitu pikir pria kelahiran
Jakarta, 15 Maret 1982.



Seni mural yang kerap ia ciptakan pada dinding-dinding di tepi jalan, tak jarang
menimbulkan kesalahpahaman pandangan masyarakat terhadap mural dan graffiti.
Menurutnya, mural merupakan seni menggambar di tembok yang lebih mengedepankan objek.
Dan sejelek apapun hasil gambar itu tetap disebut mural.