Beritahati.com, Jakarta - Orang Indonesia pasti tahu yang namanya telur asin. Telur asin merupakan salah satu olahan dari telur yang diasinkan. Biasanya, telur yang digunakan untuk membuat telur asin adalah telur bebek dikarenakan pori-pori cangkan yang lebih besar yang memudahkan dalam proses pengasinan.


Kini banyak jenis makanan berbahan dasar telur asin. Selain dimakan langsung, kuning telur asin juga bisa digunakan untuk dijadikan saus makanan.


WHO (World Health Organization) atau Lembaga Kesehatan Dunia menyarankan asupan garam hanya 5 gram (setara dengan natrium 2.000 mg) per hari. Jarang sekali seseorang bisa mengalami kekurangan natrium, kecuali bila menderita diare, kekurangan gizi, dan gagal jantung. Sebaliknya, terlalu banyak natrium juga jelas tidak baik bagi kesehatan dan dapat menimbulkan berbagai gangguan.


Berikut beberapa risiko berbahaya akibat mengonsumsi telur asin dalam jumlah yang berlebihan:


Kadar garam yang tinggi dalam telur asin bisa mengakibatkan penimbunan cairan di dalam tubuh, yang dapat menyebabkan pembengkakan di kaki serta meningkatkan beban kerja jantung.


Telur asin dengan kandungan garam yang tinggi juga dapat menyebabkan hipertensi, sehingga meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, stroke, dan penyakit ginjal.


Berdasarkan sejumlah studi, pola makan yang tinggi kandungan garam, termasuk terlalu sering mengonsumsi telur asin, dapat meningkatkan risiko kanker lambung. Hal ini karena konsumsi garam yang tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan Helicobacter pylori, yaitu bakteri yang dapat menyebabkan peradangan dan ulkus lambung, serta meningkatkan risiko kanker lambung. Di samping itu, telur asin dan asupan tinggi garam lainnya juga dapat merusak lapisan lambung sehingga lebih rentan terpapar karsinogen.


Oleh karena itu, agar terhindar dari penyakit-penyakit di atas, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan asin, termasuk telur asin, secara bijak.