Beritahati.com, Jakarta - Malam dingin diiringi turunnya hujan, 'Tjahaja Seorang Basuki' karya Rudi Tamrin meluncur mulus lewat Amzara & Co di Ruang Serba Guna Taman Kemayoran Condominium, Rabu (23/1/2019).


Seratus lebih 'kotak-kotak merah' duduk rapih menunggu bedah buku yang menghadirkan enam panelis sebut saja; Dr. Amirullah Tahir, S.H., M.M. (Advokat Senior), KH. Nuril Arifin (Gus Nuril-Ulama), Karyono Wibowo (Pengamat Politik), Irine Hiraswari Gayatri (Peneliti LIPI), Tirtayasa (Aktivis Sosial), serta Aven Jaman (Peneliti LPI).


Amirullah berpendapat, sebagai salah satu pengacara yang sudah malang melintang di bidang pembelaan hukum, seharusnya tidak ada dalil hukum yang mampu membawa Basuki Tjahaja Purnama alias BTP, pria yang dibicarakan Rudi Tamrin dalam bukunya, untuk masuk jeruji besi. Namun, takdir tak bisa dihindari, kata Amirullah.


Aven Jaman menganalogikan kisah seorang BTP dengan perjalanan hidup Socrates yang berakhir tragis di ujung bibir gelas berisi minuman beracun. Sebelumnya, Socrates membangkitkan kebencian para kaum cendekiawan kala itu karena mereka yang sebelumnya dikultuskan perlahan mengalami pemudaran pengaruh dengan kehadiran Socrates si Pemikir Ulung dan Raja Logika Kemanusiaan.


Irine Hiraswari lantas mengungkapkan pula bagaimana ia mengagumi sosok BTP di laman facebook miliknya. Kuat, berpegang teguh pada prinsip, cerdas, dan menjunjung tinggi kejujuran dalam hidup, adalah dasar begitu kagumnya Irine akan kepribadian mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut. Dan jika Indonesia atau daerah-daerah di Indonesia punya pemimpin seperti ini, akan luar biasa sekali. Demikian menurut Irine.



Aktivis Sosial, Tirtayasa memastikan, BTP merupakan seorang konseptor ulung pemerintahan, yang berpegang teguh pada prinsip-prinsip dasar kejujuran dan demokrasi. BTP adalah sosok terang di dalam gelap, terang bagi gelapnya pemerintahan DKI, serta terang dalam gelapnya kehidupan masyarakat. Terang bagi demokrasi yang sudah gelap, juga terang dalam kehidupan politik berdemokrasi. Singkatnya, BTP adalah pejuang demokrasi dan kemanusiaan. Dan jika manusia Indonesia mau belajar dari kepribadian seorang BTP, pastinya dapat menjadi sosok orang Indonesia yang berani mengatakan mana yang benar bagi sebuah kebenaran, serta mana yang salah akan sebuah kesalahan.


Karyono Wibowo, Pengamat Politik, juga memastikan bahwa sosok BTP merupakan tipe pemimpin yang diidamkan bangsa Indonesia,. Kenapa demikian? Karena negara ini penuh koruptor, dan BTP merupakan sosok pemberani yang mampu menghantam semua praktik korupsi dan kolusi yang kerap terjadi antara birokrat dan swasta dalam sebuah sistem pemerintahan.


Terakhir, Ulama Gus Nuril menyatakan, BTP ibaratnya reborn, atau terlahir kembali. Proses berada di dalam jeruji besi Mako Brimob telah membentuk sebuah batu besar bernama Ahok, memotong, menggerinda, terakhir memolesnya menjadi sebuah batu mutiara bernama BTP. Mengapa demikian? Tidak ada mutiara yang langsung terlahir bercahaya, begitu pula BTP. Demikian pungkas Gus Nuril.


Benang merah dari semua panelis adalah, BTP sosok pemimpin idaman bangsa Indonesia. Pemimpin jujur dan berani berpegang teguh pada kebenaran di hadapan siapapun.



Hari Kebebasan, Cahaya Bersinar Kembali


Akhirnya, hari bersejarah itu tiba, Kamis, 24 Januari 2019, Basuki Tjahaja Purnama menandatangani surat kebebasannya di Mako Brimob, kemudian bersama keluarga, pergi menuju sebuah tempat yang dirahasiakan dari wartawan maupun para pendukungnya.


Ternyata BTP sedang mempersiapkan sebuah langkah besar, yakni menikahi Puput Nastiti Devi, sebagai pengganti Veronica Tan yang sebelumnya sudah diceraikan akibat prahara dalam rumah tangga. Kehadiran Puput diharapkan menjadi penyejuk sekaligus pengganti sosok Veronica Tan bagi anak-anaknya kelak.


Apakah ini sebuah sinyal bahwa Basuki Tjahaja Purnama akan melakukan sebuah lompatan besar dalam hidupnya, pasca dua tahun dibalik jeruji Mako Brimob? Akan kembali lagikah Nemo ke kancah politik entah sebagai politisi atau birokrat?


Sahabat kentalnya, Djarot Saiful Hidayat sempat melontarkan pernyataan kepada wartawan, Kamis, 24 Januari 2019, bahwa jika negara membutuhkan, BTP siap menjadi Dirjen Bea dan Cukai.


Bahkan ada fenomena menarik, ketika seorang pendukung fanatik BTP yang bertahan sehari semalam di Mako Brimob sempat menangis saat diwawancara wartawan.


"Kasihan Pak Ahok, dia orang baik, orang benar yang teraniaya. Saya senang Pak Ahok bebas," ujar seorang Ibu dari kawasan Pluit, Jakarta Utara, sambil menangis di Mako Brimob, Kamis (24/1/2019).


Bahkan Dorce berharap, selepas bebas, karier BTP bisa lebih baik dari sebelumnya, karena Dorce memimpikan Indonesia bersih dari korupsi, sehingga BTP dinilai sosok yang tepat sebagai calon Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).


"Semoga Pak Ahok bisa jadi Ketua KPK," terang Dorce.


Kebetulan, Ketua KPK sekarang ini, yakni Agus Rahardjo sudah mendekati masa akhir jabatan dan tidak mau melanjutkan lagi pengabdiannya sebagai Ketua KPK periode selanjutnya.


Apapun itu, hendak kemana BTP selanjutnya, apa yang akan dilakukannya, masih menjadi sebuah misteri. Namun demikian, satu pelajaran yang diambil dari sini adalah, BTP menunjukkan kepada semua orang, bagaimana ia sebagai pemimpin sangat sistematis dalam bergerak. Perencanaan dan konsepnya matang, sehingga lancar dieksekusi menjadi output.


BTP tegas, dia sudah menyurati pendukungnya agar tidak datang ke Mako Brimob sebelumnya. Dan benar saja, ia tak mau menemui para 'Ahokers' yang sudah sehari semalam menjejali kawasan seputar Mako Brimob.


Dia juga berjiwa besar, tak mau terlalu jatuh dalam jurang penyesalan, dia move on dengan masalah rumah tangganya, dicarinya sosok ibu yang menurutnya cocok dan baik bagi anak-anaknya.


Terakhir, kemana pengabdian BTP selanjutnya? Kepala Bulog, Dirjen Bea dan Cukai, ataukah Ketua KPK?


Kemanapun dirinya berlabuh, hanya satu kalimat yang layak muncul, yakni ; 'Bersiaplah wahai kegelapan, bersiaplah wahai persekongkolan, bersiaplah wahai manusia-manusia tak beradab pengemplang pajak negara, karena Tjahaja itu sudah hadir'.



Video : Yurike/Beritahati
Naskah : Miechell/Beritahati