Beritahati.com, Jakarta - Dalam perayaan Tahun Baru Imlek, banyak tradisi yang biasa dilakukan oleh masyarakat Tionghoa yang merayakannya, salah satunya adalah "fang sheng" atau menerbangkan (melepasterbangkan) burung pipit.


Bagi warga Tionghoa, pelepasan burung pipit atau dikenal juga dengan sebutan burung gereja adalah untuk mendapatkan karma baik di kemudian hari, serta menjadi simbol hidup berkesinambungan dengan alam sekitar.


"Untuk mendapatkan keselamatan di kemudian hari nanti, itu intinya," sebut Ali, seorang warga Tionghoa saat ditemui Beritahati di Vihara Dharma Bhakti Petak 9, Jakarta, Selasa (5/2/2019).


Dalam perayaan Imlek hari ini, Ali melepaskan dua box burung pipit dengan total jumlah sekitar 216 ekor. Dan bukan main-main juga, ini ada makna khususnya lho.


"Berdasarkan kepercayaan atau keinginan sendiri saja mau lepas berapa ekor burung. Tapi kalau sesuai makna, semakin banyak burung pipit dilepaskan, semakin panjang usia kita. Karena satu ekor burung dipercaya menambah satu tahun usia. Dan banyak rejeki juga ya," tutur Ali.



Bagi Ali, Imlek itu identik dengan harapan akan keselamatan, kebahagiaan serta kesuksesan di masa depan. Dan semua kebahagiaan dan harapan tersebut dibagikan bersama orang-orang tercinta, yakni keluarga.


Sehabis memanjatkan doa bersama di kelenteng, biasanya Ali dan keluarga akan berkumpul dengan semua keluarga besar, lalu makan bersama dan bercengkerama. Dan ketika ditanya mengenai makanan khas Imlek, Ali juga tanpa ragu membagikannya kepada Beritahati.


"Makanan khas Imlek biasanya ikan bandeng dan buah-buahan," beber Ali.


Melalui momentum Imlek 2019, Ali berharap tahun ini tidak ada ribut-ribut dan semuanya bisa menjalani kegiatan dengan aman, tenteram dan damai.


"Jangan ribut-ribut biar usaha bisa lancar," tandasnya.


Video : Ulfa/Beritahati