Beritahati.com, Jakarta - Sektor manufaktur Indonesia saat ini belum terdiversifikasi dan masih mengekspor produk dengan variasi yang relatif sedikit. Ekspor utama Indonesia saat ini juga masih didominasi oleh komoditas mentah dan barang manufaktur sederhana. Hal ini sangat berbeda dengan jenis produk ekspor dari negara maju, dimana produknya relatif lebih kompleks dan bernilai lebih tinggi, seperti mesin, bahan kimia, ataupun elektronik.


Meskipun sebagian besar perusahaan Indonesia sudah terhubung dengan rantai nilai global, tetapi sebagian besar eksportir tersebut merupakan pemasok bahan mentah untuk industri di negara lain. Selain itu, proporsi tenaga kerja yang bekerja di sektor manufaktur Indonesia masih lebih rendah dibandingkan dengan negara Asia yang berpendapatan tinggi pada puluhan tahun lalu.


"Sementara itu, sekitar 99 persen dari perusahaan manufaktur di Indonesia berukuran mikro atau kecil," jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Ruang Rapat Djunaidi Hadisumarto 1-5, Kementerian PPN/Bappenas, baru-baru ini.


Pertumbuhan ekonomi tinggi diperlukan Indonesia agar dapat menjadi negara maju dalam waktu yang tidak terlalu lama.Indonesia juga memerlukan diversifikasi ekonomi dan pertumbuhan sektor manufaktur yang lebih cepat.


“Dalam waktu lima belas tahun ke depan, Indonesia bertekad untuk menjadi negara berpendapatan tinggi. Namun, hasil studi ADB-Bappenas menunjukkan struktur perekonomian yang masih berbasis komoditas serta manufaktur dan jasa berteknologi rendah akan menyulitkan Indonesia untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Untuk itu, pemerintah harus mendorong industrialisasi agar pertumbuhan Indonesia lebih tinggi dalam jangka menengah dan panjang,” sambung Menteri Bambang.


Hasil studi ini menganalisis prospek pertumbuhan Indonesia selama 2020–2024, khususnya bagaimana ekonomi Indonesia dapat tumbuh di kisaran 7 persen di masa datang. Lebih lanjut, dibahas pentingnya upaya diversifikasi dan meningkatkan sektor manufaktur, termasuk agar pemerintah dapat mendorong kebijakan industri yang lebih modern, serta peranan penting dari kebijakan fiskal dan moneter dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.