Beritahati.com, Jakarta - Agar aspirasi dan cita-cita untuk mencapai negara berpendapatan yang lebih tinggi bisa terwujud, penting bagi Indonesia untuk mendorong pengembangan industri manufaktur dengan kompleksitas dan nilai tambah yang lebih tinggi.


Selain itu, penting juga meningkatkan produktivitas, mendukung diversifikasi produk, menciptakan keterkaitan nilai tambah yang lebih kuat antara perusahaan besar dengan UKM, dan juga perusahaan domestik dengan pasar internasional.


“Dalam waktu lima belas tahun ke depan, Indonesia bertekad untuk menjadi negara berpendapatan tinggi. Namun, hasil studi ADB-Bappenas menunjukkan struktur perekonomian yang masih berbasis komoditas serta manufaktur dan jasa berteknologi rendah akan menyulitkan Indonesia untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi. Untuk itu, pemerintah harus mendorong industrialisasi agar pertumbuhan Indonesia lebih tinggi dalam jangka menengah dan panjang,” jelas Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Ruang Rapat Djunaidi Hadisumarto 1-5, Kementerian PPN/Bappenas, baru-baru ini.


Sementara itu, Penasihat di Departemen Penelitian Ekonomi dan Kerja Sama Regional ADB, Jesus Felipe mengatakan, Pemerintah dapat berperan penting dalam proses revitalisasi sektor manufaktur melalui kerja sama dan koordinasi yang lebih efektif. Pemerintah perlu memulai dialog dengan sektor swasta agar dapat bersama-sama mengidentifikasi dan mengatasi hambatan terhadap pembangunan sektor manufaktur modern.


"Pemerintah dan sektor swasta harus bekerja sama dalam mendorong inovasi produk yang lebih bervariasi dengan konten teknologi yang lebih tinggi,” kata Jesus Felipe.


Hasil studi ADB-Bappenas inijuga menekankan transformasi ekonomi Indonesia perlu menjadi prioritas pembangunan jangka menengah 2020–2024.


“Hasil studi ADB-Bappenas ini menjadi landasan yang kokoh bagi para pengambil kebijakan Indonesia agar mulai merencanakan kebijakan yang perlu dilaksanakan guna mendukung pembangunan Indonesia dalam jangka menengah dan panjang. Analisis dan rekomendasi dalam buku ini juga akan menjadi masukan penting bagi agenda pembangunan jangka menengah 2020–2024,” pungkas Menteri Bambang.