Beritahati.com, Jakarta - Keracunan makanan seringkali kita temui dimana saja, dari kebanyakan kasus, keracunan makanan biasanya disebabkan oleh jajanan pinggir jalan. Padahal, keracunan makanan dapat berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan baik. Pelajari cara mengatasi keracunan makanan di bawah ini sebelum terlambat.
Kenapa kita bisa keracunan makanan?
Cara mengolah dan menyiapkan makanan yang tidak steril, makanan yang tidak dimasak hingga matang, serta kebersihan diri yang buruk dapat mengundang patogen penyebab keracunan hinggap di makanan. Penyebab keracunan makanan yang paling umum adalah bakteri, meski juga bisa disebabkan oleh jamur, alga, parasit, atau virus.


Kuman tersebut akhirnya ikut masuk tertelan bersama makanan dan mendarat di saluran pencernaan kita. Ketika kuman menetap di dalam tubuh, mereka akan terus memperbanyak diri di dalam saluran cerna sambil menghasilkan racun yang mengiritasi dinding saluran cerna, bahkan terkadang hingga merusak jaringan.


Apa saja tanda dan gejala keracunan makanan?
Gejala keracunan makanan tidak muncul dengan segera begitu Anda makan makanan yang tercemar. Kuman penyebab keracunan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berkembang biak dalam tubuh. Bakteri Salmonela, misalnya membutuhkan waktu inkubasi sekitar 6-72 jam, sehingga gejala baru akan muncul 2-5 hari setelah mengonsumsi makanan tersebut.


Bakteri Campylobacter memiliki masa inkubasi yang lebih lama dibanding Salmonella, yaitu hingga 2-5 hari. Sesudah masa inkubasi tersebut, barulah Anda akan merasakan gejala-gejala keracunan makanan.


Beberapa tanda dan gejala keracunan makanan yang umum adalah:


Mual dan muntah


Diare (bahkan dapat disertai darah bila keracunan disebabkan oleh bakteri Campylobacter atau E. coli).
Perut nyeri dan kram, biasanya dalam waktu 12-72 jam setelah makan
Dehidrasi, sebagai gejala lanjutan dari mual dan muntah
Sakit kepala
Keracunan makanan juga bisa menimbulkan gejala lainnya, seperti demam, sesak napas, sakit otot, hingga rasa lemah dan lelah tanpa alasan jelas. Keluhan-keluhan ini akan berlangsung selama 1-3 hari, tergantung pada jenis patogen penyebabnya.


Cara mengatasi keracunan makanan yang benar
Cara mengatasi keracunan makanan akan disesuaikan oleh penyebabnya, karena beda kuman, beda pula cara pengobatannya. Namun, sebagian besar kasus keracunan makanan dapat sembuh sendiri dan tidak memerlukan pengobatan khusus.


Berikut sejumlah prinsip umum cara mengatasi keracunan makanan yang dapat Anda lakukan di rumah sebelum mendapat pertolongan medis:


Beristirahatlah yang cukup.
Perbanyak minum air putih untuk mencegah terjadinya dehidrasi. Bisa juga ditambah dengan minum oralit (larutan garam dan gula).
Konsumsi obat antidiare untuk memadatkan feses sekaligus untuk menyerap racun yang ada di dalam usus, seperti alumunium hidroksida atau kaopectate.
Jangan berikan obat antimuntah.Hanya berikan obat tersebut jika Anda atau pasien mengalami dehidrasi parah.
Makan makanan yang padat, seperti biskuit, sereal kering secara perlahan sampai Anda bisa kembali mengonsumsi makanan seperti biasa. Hal ini juga berlaku untuk anak-anak.
Terapkan pola hidup sehat dan selalu jaga kebersihan diri sendiri.


Bila Anda memiliki penyakit diabetes, sistem imun yang rendah, berusia lanjut, atau memiliki penyakit hati, Anda dapat mengonsumsi antibiotik (misalnya Ciprofloxacin 2×500 mg selama 5 hari) sebagai pencegahan terjadinya infeksi lebih lanjut. Namun dalam hal ini ada baiknya bila Anda berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.


Tips mencegah keracunan makanan
Cuci tangan Anda sebelum mengonsumsi makanan.
Bila Anda menyimpan makanan dalam lemari pembeku (freezer), pastikan suhunya di bawah 4ºC.
Saat menyimpan, pisahkan bahan pangan mentah dan matang.
Selalu gunakanlah air yang bersih dan bahan pangan yang masih segar.
Cucilah dahulu buah dan sayur sebelum dipotong, dikupas atau dimakan langsung.
Masak makanan hingga benar-benar matang.
Simpan setiap makanan dalam wadah kedap udara dan jauh dari paparan sinar matahari.
Hindari konsumsi olahan produk susu yang belum dipasteurisasi.


Sumber: hellosehat.com