Beritahati.com, Bogor - Pelecehan seksual berwujud pemerkosaan kembali terjadi terhadap anak dibawah umur. Kejadian berlangsung sebenarnya sudah sejak usai Hari Raya Idul Fitri 2018 silam, kira-kira 5 Januari 2019, di Kampung Cikampek, RT03/RW06, Desa Bojongrangkas, Ciampea, Kabupaten Bogor.


Kembali modus lama, pelaku memanfaatkan letak rumahnya yang berdekatan dengan rumah korban, sehingga orangtua korban tidak menaruh curiga apapun karena bertetangga dekat. Berawal ketika korban HKL alias HZ (10), berjenis kelamin perempuan, Kelas IV SD kira-kira pukul 8.00 WIB pagi hari, izin pergi ke rumah seorang saudaranya sekitar 3 blok dari rumahnya.


Dalam perjalanan, korban bertemu dengan otak pelaku bernama DN, remaja belasan Kelas III SMP. DN langsung menggendong HKL ke pinggir rumahnya, dimana disitu sudah menunggu R (8), seorang bocah laki-laki. Dani lantas memerintahkan R untuk memperkosa HZ. Pakaian korban dilucuti pelaku dan otak pelaku, kemudian R memulainya.


Karena sudah 4 kali mencoba dan kesulitan, DN memanggil UB (8) untuk lanjut menggagahi HZ. Menurut kesaksian UJ, aksinya direkam video oleh DN dan disaksikan 9 kawan DN yang lainnya.


Handphone yang digunakan DN untuk merekam pemerkosaan yang dilakukan R dan UB terhadap HZ langsung dijual untuk menghilangkan jejak oleh si pemilik (DN).


"UPT PPA Wilayah IV bersama RT/RW dan tokoh masyarakat sudah berupaya membantu penanganan kasus ini. Dan kasus juga sudah dilaporkan ke Polsek Ciampea, sementara psikologis korban dan pelaku suruhan sudah ditangani oleh Tim Reaksi Cepat Komnas Perlindungan Anak dan Lintas Healing Centre yang dipimpin oleh Ibu Adriana Eko Susanti beserta Tim Yayasan MGMP Peduli," terang Maliki Muslim, jubir Majelis Gerakan Masyarakat Peduli (MGMP Peduli) kepada Beritahati, Minggu (10/3/2019) malam.


Untuk kasus ini, tidak dilaporkan sejak awal oleh korban kepada orangtuanya karena takut diancam oleh DN dan 9 orang temannya yang menonton korban digagahi sebanyak 4 (empat) kali sekaligus divideokan.


"Kasus terungkap karena korban HZ mulai mengalami gejala sakit, terus sikapnya menjadi pemurung. Kemudian kekuarganya mulai menanyakan dan akhirnya HZ bicara dan akhirnya terungkaplah semua kemudian sampai laporan ke Polsek setempat," tambah Maliki.


Akan tetapi, kasus ini lama sekali tidak ada tindak lanjut dari kepolisian khususnya Polsek Ciampea. Pihak keluarga korban lantas bertanya-tanya, apakah karena pelakunya masih sangat di bawah umur? Tapi otak pelaku yang memvideokan lalu yang menyuruh pelaku menggagahi korban sudah berusia belasan (Kelas III SMP), sehingga bisa dijerat hukum.


"Otak pelakunya ini sama sekali belum ditangkap atau diproses oleh polisi yang menangani kasus itu. Sampai kapan? Ini sudah lama sekali, keburu basi kasusnya, keburu lupa si otak pelakunya. Berbahaya seperti ini. Nanti otak pelaku (DN) akan berpikir tak masalah berbuat seperti itu lagi, dan jatuh lagi korban berikut. Kalau sampai seperti itu, saya katakan itu kesalahan pihak kepolisian. Saya berharap Polres Bogor segera ambil alih kemudian menindaklanjutinya," tandas Maliki.