Beritahati.com, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memindahkan lokasi penahanan atau mengeksekusi seorang terpidana kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) atas nama Amin Santono. Amin merupakan mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia yang terlibat dalam kasus dugaan penerimaan suap terkait anggaran keuangan untuk daerah.


Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat ditanya wartawan di Gedung KPK Jakarta menjelaskan bahwa terpidana Amin Santono telah dipindahkan dari Rumah Tahanan (Rutan) KPK menuju Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Provinsi Jawa Barat.


Menurut Febri, pemindahan Amin tersebut dilakukan setelah yang bersangkutan dinyatakan secara sah dan meyakinkan bersalah karena terkiant dalam kasus suap. Majelis Hakim akhirnya menjatuhkan hukuman 8 tahun penjara serta denda Rp 300 juta subsider 3 bulan kurungan.


“ KPK telah memindahkan lokasi tempat penahanan atau mengeksekusi terpidana kasus korupsi Amin Santono bersama 3 orang lainnya pemindahan tersebut berdasarkan Putusan Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat yang menjatuhkan vonis pidana penjara 8 tahun, dengan demikian yang bersangkutan menjalani hukuman pidana penjara di Lapas Klas I Sukamiskin ” jelas Febri di Gedung KPK Jakarta, Rabu (13/3/2019).


Sementara itu sebelumnya Amin Santono telah dinyatakan terbukti menerima uang yang diduga suap sebesar Rp 3,3 mliar. Uang tersebut diduga merupakan pemberian Taufik Rahman, Kepala Dinas (Kadis) Bina Marga Kabupaten Lampung Tengah Taufik Rahman dan Direktur CV Iwan Binangkit, Ahmad Ghiast.


Duit itu disebut diberikan agar Amin mengupayakan alokasi dana tambahan bagi Kabupaten Lampung Tengah dan Sumedang pada APBN 2018. Selain dihukum pidana penjara, Amin juga dijatuhi hukuman tambahan berupa pencabutan hak politiknya, baik dipilih maupun memilih selama 3 tahun dan ditambah membayar uang pengganti sebesar Rp 1,6 miliar.


Sementara itu penyidik KPK dalam waktu yang hampir bersamaan juga memindahkan atau mengeksekusi 3 orang lainnya hari ini. Ketiga orang tersebut masing-masing adalah Yaya Purnomo mantan pejabat Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia, kemudian Eka Kamaludin seorang perantara suap untuk Amin Santono dan Gatot Rachmanto penyuap Bupati Cirebon, Jawa Barat.


Sebelumnya tersangka Yaya dan Eka merupakan terpidana kasus dugaan korupsi penerimaan suap, kasus tersebut masih berkaitan dengan Amin Santono. Yaya dieksekusi ke Lapas Sukamiskin setelah dirinya dinyatakan bersalah dan divonis 6,5 tahun bui serta denda Rp 200 juta subsider 1 bulan kurungan.


Majelis Hakim pengadilan Tipikor Jakarta menyatakan bahwa terdakwa Yaya Purnomo diduga telah berkongkalikong dengan Amin Santono agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Tengah diduga telah mendapat tambahan DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DID (Dana Insentif Daerah) di APBN 2018.


Selanjutnya tersangka Eka Kamaludin juga dieksekusi ke Lapas Sukamiskin, yang bersangkutan sebelumnya telah divonis 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 1 bulan kurungan. Selanjutnya yang bersangkutan juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 158 juta, karena Eka terbukti menerima uang suap atau sebagai perantara suap untuk Amin Santono.


Yang terakhir adalah terpidana Gatot Rachmanto dieksekusi ke Rutan Klas I Bandung. Gatot sebelumnya menjabat sebegai Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang PUPR Pemerintah Kabupaten Cirebon terbukti memberi suap Rp 100 juta ke Bupati Cirebon nonaktif Sunjaya Purwadisastra. Gatot kemudian divonis 1 tahun 2 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan.