Beritahati.com, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mencermati adanya dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) penerimaan suap yang melibatkan Wahid Husen, bekas Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.


Pengadilan Tipikor Bandung telah memvonis Wahid Husen selama 8 tahun penjara dan denda Rp 400 juta subsider 4 bulan penjara karena terbukti menerima suap dari Fahmi Darmawansyah serta sejumlah narapidana lain. Selain itu Wahid terbukti telah menerima sejumlah uang yang diduga merupakan suap dari pihak lain.


Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di Gedung KPK Jakarta menjelaskan bahwa diduga ada sejumlah nama lain yang disebutkan dalam persidangan akan ditindaklanjuti KPK. Menurut Febri, sejumlah fakta yang muncul dalam persidangan akan diuji atau dicermati KPK.


“Penyidik KPK akan mencermati terkait adanya dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus dugaan keterlibatan pihak lain dalam kasus suap yang melibatkan Wahid Husen mantan Kalapas Sukamiskin,” jelasnya di Gedung KPK Jakarta, Selasa (9/4/2019).


Sementara itu KPK mengapresiasi terkait putusan dari majelis hakim Tipikor Bandung untuk vonis hukuman kepada terdakwa Wahid Husen. Febri menyatakan bahwa KPK masih pikir-pikir apakah pihaknya bisa menerima putusan tersebut atau justru akan menempuh upaya hukum lainnya.


Majelis Pengadilan Tipikor Bandung menyatakan Wahid bersalah menyalahgunakan wewenang saat menjadi Kalapas Sukamiskin. Wahid dinyatakan terbukti menerima sejumlah barang dan uang dari narapidana Fahmi dan memberikan fasilitas tambahan ke Fahmi.


Wahid terbukti mendapatkan sejumlah uang dan barang dari Fahmi, di antaranya mobil double cabin merek Mitsubishi Triton, tas merek Louis Vuitton, sandal, sepatu boot dan uang senilai Rp 39,5 juta. Atas pemberian tersebut, hakim menyebut Wahid memberikan sejumlah fasilitas, seperti kamar mewah yang berisikan televisi kabel, AC, kulkas, dan kasur springbed. Fahmi juga dibebaskan menggunakan ponsel.


Selain fasilitas di dalam lapas, Wahid disebut memberikan keleluasaan kepada Fahmi untuk ke luar lapas melalui izin berobat dan izin luar biasa. Menurut hakim, pembiaran yang dilakukan Wahid menyalahi peraturan.


Hakim juga menyatakan Wahid menerima uang dari narapidana lain, yakni Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan dan Fuad Amin. Wawan memberikan uang sebesar Rp 69,4 juta, sedangkan Fuad memberikan Rp 121 juta. Atas pemberian itu, Wahid memberikan fasilitas tambahan kepada Fuad dan Wawan, baik di dalam Lapas Sukamiskin maupun fasilitas izin berobat yang disalahgunakan.


Saat ini, Fuad dan Wawan masih berstatus sebagai saksi dalam perkara ini. Keduanya sempat diperiksa KPK juga dihadirkan dalam persidangan kasus suap Wahid. Fuad dan Wawan memang sempat menghilang dari sel-nya saat peristiwa operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Wahid sehingga sel keduanya disegel KPK saat itu.