Beritahati.com, Yogyakarta - Indonesia mendapatkan julukan sebagai negara nomor dua penghasil sampah plastik dunia dan sudah melekat dalam beberapa tahun terakhir ini. Peneliti dari Universitas Georgia Amerika Serikat, Jenna Jambeck menyebut produksi sampah plastik di Indonesia hanya bisa dikalahkan oleh negara Tiongkok.


Sampah plastik ternyata juga telah menjadi ancaman di laut yang dapat mematikan ekosistem, hal ini diperkuat dengan temuan adanya seekor ikan paus di Compostela Valley Filipina yang ditemukan mati dengan 40 kilogram plastik di dalam perutnya.


Ancaman kerusakan lingkungan yang besar terhadap keberadaan sampah plastik mendorong sejumlah perusahaan skala nasional yang menggunakan plastik untuk mengemas produknya dengan sejumlah terobosan guna mengurangi dampak lingkungan dari sampah plastik.


Lalu apa langkah yang akan dilakukan oleh PT. Tirta Investama (Danone-AQUA) yang memiliki produk air mineral yang kemasannya menggunakan bahan plasti dalam jumlah sangat besar untuk bisa menekan ancaman lingkungan dari sampah plastik?


Marketing Manager PT Tirta Investama (Danone AQUA), Jeffri Ricardo mengatakan, untuk mengurangi sampah plastik salah satu langkah yang dilakukan adalah kampanye Bijak Berplastik yang artinya bukan memerangi plastik namun bagaimana caranya secara bijak menggunakan plastik.


"Ambisi kita dengan kampanye Bijak Berplastik itu pada tahun 2025 mengumpulkan semua plastik yang diproduksi dan 50 persen semua kemasan menggunakan plastik daur ulang," ujarnya di sela-sela acara Zona Kebaikan Air di Taman Pintar Yogyakarta, Rabu (10/4/2019).


Beberapa target inovasi juga terus dilakukan sampai tahun 2025 yaitu produk dapat digunakan kembali, dapat didaur ulang dan menggunakan produk dari bahan organik seperti plastik berbahan baku dari ketela.


"Saat untuk beberapa inovasi yang telah dilakukan dengan teknologi yang ada belum ada material plastik yang belum bisa dimanfaatkan menjadi sebuah botol air minum yang kualitas terjaga, tahan lama, kuat dan harganya terjangkau," tuturnya.


Menurutnya, untuk penggunaan botol plastik yang berbahan baku organik seperti ketela atau cassava sampai saat ini secara global belum mampu menggunakan atau memproduksinya secara massal.


"Harus kita sadari bahwa peran perusahaan bagi masyarakat adalah menyediakan produk yang sehat dan terjangkau. Bayangkan jika di pelosok Indonesia tidak ada kemasan yang layak, sehat dan terjangkau," ucapnya.


Jeffri melanjutkan, jika ingin menghasilkan produk kemasan yang ramah lingkungan seharusnya ada kolaborasi semua perusahaan air mineral sehingga nantinya produk kemasan yang dihasilkan akan ramah lingkungan dan harganya terjangkau.


"Jadi saat ini botol kemasan air mineral yang terjual dipasaran sudah mengandung 25 persen kandungan plastik daur ulang sedangkan botol yang panjang tanpa label sudah 100 persen plastik daur ulang. Secara kualitas kemasan daur ulang tidak ada bedanya hanya harganya beda lebih mahal botol daur ulang karena butuh investasi lebih mahal," ujarnya.


Sementara Hydration Science Director PT. Tirta Investama (Danone-AQUA) mengatakan selain melakukan inovasi pada perusahaan untuk mengurangi sampah plastik, pihaknya juga bekerjasama dengan Taman Pintar Yogyakarta dengan meluncurkan Zona Kebaikan Air yang bisa memberikan edukasi pada anak usia dini tentang manfaat dan kebaikan air serta berperilaku baik dan benar untuk pemenuhan hidrasi sehat dan terus melakukan kebiasaan yang baik.


"Dari kecil anak-anak bisa diberi edukasi bagaimana memanfaatkan air, kemudian membuang botol air mineral pada tempatnya sehingga tidak mencemari lingkungan," ujarnya.