Bertahati.com, Jakarta - Selalu ada saja momen ketika anak tidak mengerjakan sesuatu seperti yang diinginkan orangtua. Misalnya tidak mau menghabiskan makanan, tidak mau berangkat ke sekolah, atau tidak mau mengerjakan PR dari sekolah.


Jika ini kerap terjadi, haruskah bersikap tegas dengan menghukumnya?


Mendisiplinkan anak memang penting, tapi tetap perlu ada aturan dan batasannya. Jika Bunda sering bertanya-tanya apakah pola asuh yang diterapkan pada Si Kecil terlalu keras, hal-hal di bawah ini bisa memberikan jawaban yang cukup fair.


1. Hanya memuji hasil terbaik anak


Apakah Bunda baru memuji Si Kecil ketika pencapaiannya sempurna? Apabila Bunda baru memberi pujian jika nilai ujiannya 100 atau saat ia mencetak gol di pertandingan bola, Si Kecil dapat menganggap bahwa Bunda hanya menyayanginya ketika ia berhasil. Mulai sekarang, cobalah untuk tetap memuji anak meskipun ia gagal atau tidak mencapai hasil yang diharapkan, selama ia sudah berusaha dengan baik.


2. Hanya memberi perintah


Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung akan terus memberikan perintah yang harus dilakukan saat itu juga. Yuk, Bunda, coba beri kebebasan pada Si Kecil. Bunda dapat memberikan kalimat tanya atau pilihan yang sama-sama baik. Misalnya, “Mau membereskan kamar dulu atau meletakkan pakaian kotor di ember?”


3. Bunda tidak memberi toleransi


Orang tua yang terlalu keras pada anak cenderung tidak melihat penyebab atau alasan saat anak tidak melakukan hal yang diinginkan orang tua. Misalnya, Bunda ingin Si Kecil menjaga kebersihan pakaiannya, namun sekali waktu ia terjatuh saat berjalan di halaman yang licin dan pakaiannya menjadi kotor. Jangan marah-marah dulu, cukup minta Si Kecil untuk lebih berhati-hati ketika berjalan.


4. Terlalu sering mengomel dan menghukum


Bunda sering mengomeli atau menghukum anak saat ia lalai atau lambat dalam mengerjakan sesuatu? Ternyata, terlalu sering mengomel justru dapat membuat anak tidak belajar untuk mandiri. Dia pun jadi tidak belajar untuk bertanggung jawab atas tindakannya. Yuk biasakan hanya menegur anak untuk hal yang benar-benar penting.


Selain itu, biarkan anak menghadapi konsekuensi alami dari kelalaian atau kemalasannya. Misalnya, jika anak tidak mau belajar, berarti dia tidak akan memahami materi pelajaran di sekolah.


Bunda dan Ayah perlu lebih hati-hati karena selain kurang efektif, pola asuh yang terlalu keras atau otoriter seperti contoh-contoh di atas justru bisa berdampak buruk pada anak.


Efek Negatif pada Anak
Bunda, disiplin tidak selalu berarti hukuman lho. Disiplin adalah tentang menanamkan nilai-nilai baik pada anak. Sedangkan hukuman, lebih bersifat kontrol dan kepatuhan dengan paksaan.


Disiplin yang terlalu ketat justru dapat menyudutkan anak untuk terpaksa berbohong demi menghindari hukuman. Selain itu, ekspektasi tinggi dari orang tua kadang justru membuat anak menjadi takut mencoba hal-hal baru.


Anak pun bisa menjadi terlalu khawatir, tidak percaya diri, berperilaku agresif atau terlalu malu dekat orang lain, susah bersosialisasi, dan sulit mengendalikan diri.