Beritahati.com, Makassar - Anggota Resmob Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) meringkus pelaku begal dan jambret RD (16) di rumahnya, Kampung Hollywood, Jalan Nuri Baru, Kecamatan Mariso, Kota Makassar.


Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Dicky Sondani menyebutkan, tim Resmob Polda Sulsel mengamankan tersangka pelaku tindak pidana pencurian dengan kekerasan (Curas) adalah berdasarkan hasil penyelidikan dan informasi masyarakat. Hasil interogasi, pelaku mengaku telah melakukan aksinya sebanyak 42 kali.


“Saat diinterogasi, tersangka mengakui telah melakukan aksi jambret dan begal sebanyak 42 kali di sejumlah lokasi sekitar Jalan Cendrawasih dan Jalan Nuri bersama kawan-kawannya,” ungkap Dicky dalam rilis resmi, Jumat (10/5/2019).


Selain RD, polisi juga mengamankan tersangka penadah hasil curian berinisial RE (21), di Kampung Buyang Jalan Flamboyan Barat, Kecamatan Mariso.


“Tersangka RE diketahui berulangkali membeli ponsel hasil curian dari tersangka RD dan kawanannya,” ujar Dicky.


Dicky menjelaskan, RD tidak sendirian saat melakukan aksi kejahatan. Saat diinterogasi di Posko Resmob, RD mengaku ada lima rekan yang membantunya beraksi, yaitu YD, AC, WY, RF, dan NG.


“Kelima rekannya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO), mereka kerap sama-sama menggunakan sepeda motor melakukan jambret dan penodongan di sekitar Jalan Nuri, Jalan Cendrawasih, Kompleks Hartaco, Jalan Rajawali, dan Jalan Dangko,” tutur Dicky.


Setelah diamankan dan diambil keterangannya oleh anggota Resmob Polda Sulsel, tersangka RD dan RE diserahkan ke Polsek Mariso untuk diproses hukum lebih lanjut. Ada 2 laporan polisi di Polsek Mariso tentang perbuatan tersangka RD dan kawanannya yang berstatus DPO. Selain itu, dari 42 kasus begal dan jambret juga dilakukan di wilayah hukum Polsek Mariso.


Tersangka RD yang tergolong masih di bawah umur ini akan tetap diproses hukum menggunakan Pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan, berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Pasal 71 tentang penjatuhan pidana pada anak berusia di atas 15 tahun dan Pasal 32 tentang penahanan anak yang melakukan tindak pidana, dengan beberapa pengecualian tindakan seperti yang dilakukan pada orang dewasa pelaku pidana.