Beritahati.com, Jakarta - Setelah menggarap Love for Sale yang mendapat banyak pujian, saya bahkan menganggapnya sebagai salah satu film nasional terbaik tahun lalu. Lantas saya pun dibikin cukup penasaran mengenai film apa lagi yang akan dibuat Andibachtiar Yusuf. Dan inilah jawabannya, Pariban: Idola dari Tanah Jawa.


Tak seperti Love for Sale yang kentara sekali dibuat dengan serius, Pariban lebih terlihat seperti upaya Ucup--begitu sutradara film ini biasa disapa-- untuk bersenang-senang sejenak dengan membuat film yang cukup enteng ini.


Enteng dalam artian, selepas menontonnya kita enggak bakal pengin merenung, atau berdiskusi lebih jauh untuk membahas persoalan yang diangkat film ini. Selesai film, selesai pula urusan kita dengannya.


Pariban adalah film komedi. Bukan komedi romantis, walaupun dari materi promonya kita dapat menduga bahwa film ini bakal mengulik hubungan antara Halomoan (Ganindra Bimo, Keluarga Tak Kasat Mata, Midnight Show), cowok Batak yang lama tinggal di Jakarta, dan Uli (Atiqah Hasiholan, Mantan Manten, Wonderful Life), cewek Batak asal Toba/Samosir sebagai sejoli. Ternyata film hanya fokus kepada kisah si Moan.


Pariban mengisahkan tentang cowok Batak yang merasa dirinya paling ganteng, paling keren, dan paling sukses. Pada akhirnya, sama seperti persoalan kaum Batak pada umumnya, tentang usaha menyenangkan orang tuanya, yakni dengan cara menuruti kemauan mamaknya (dimainkan Lina Marpaung, Demi Ucok, Air & Api) untuk segera menikah dan memberinya cucu. Umur Moan semakin tua, hampir kepala empat dan sisa umur mamaknya tak ada yang bisa menduga.


Moan memiliki pariban (sepupu) yang bisa dikawininya, sesuai adat dan budaya Batak. “Cantik kali pariban kau ini, Moan.” Bujuk mamaknya kepada Moan seraya menunjukkan selembar foto. “Ini kan foto dia masih bayi, Mak!” Gerutu Moan sejurus kemudian. “Ah, pasti cantik dia! Sana kau temuilah paribanmu ini!”


Berangkatlah Moan ke Toba, Sumatera Utara, mendatangi rumah paribannya, Uli, dan kedua orang tuanya, yang lokasinya persis di pinggiran Toba dengan lanskap yang begitu cantik. Dayu Wijanto (Iseng, Susah Sinyal) dan Rukman Rosadi (Love for Sale, Istirahatlah Kata-kata) sebagai orang tua Uli, menjadi kombinasi maut. Setiap kali mereka hadir, setiap kali itu pula mereka mencuri perhatian kita.


Tetapi, seganteng-gantengnya Moan, kehebatannya dalam menggaet cewek tak berlaku di tanah Sumatera Utara. Pada saat ia bertemu Uli, tak lantas membuat Uli klepek-klepek seketika. Ia bersikap biasa saja. Lagi pula ia sudah ada yang naksir duluan, Binsar (Rizky Mocil, Kakek Cangkul, Mama Minta Pulsa), tidak ganteng dan tidak keren, tetapi tidak lantas ia tersisihkan begitu saja. Uli cukup menghormatinya, pun kedua orang tuanya.


Maka, untuk bersaing mendapatkan Uli, Moan tak cukup mengandalkan kegantengannya saja. Belum lagi, Binsar punya satu kelebihan yang tak tertandingi oleh siapa pun. Cari tahu lah sendiri soal ini, yang jelas Moan dibikin ciut nyalinya ketika ia mendapati kenyataan, bahwa Binsar bukanlah orang Batak sembarangan.


Ganindra Bimo berhasil menghidupkan sosok anak Jakarta yang sok, dan cenderung suka menyepelekan orang lain. Wataknya cukup masuk akal dan membumi. Ia bukan cowok saleh, dan bukan cowok baik-baik seperti yang sering kali digambarkan tokoh-tokoh utama dalam film nasional kita, yang semuanya mesti serba mendidik dan inspiratif.


Barangkali inilah salah satu kelebihan Ucup sebagai penulis cerita, yang mampu menciptakan karakter-karakternya, terlebih karakter-karakter utama, untuk tampil cukup membumi, relatable, dan dapat kita temui dengan mudah di kehidupan sehari-hari. Karakter Moan yang cukup bejat, berlagu, penjahat kelamin, dan suka ngibulin cewek, di tangan penulis yang salah hanya akan berakhir sebagai karakter antagonis.


Moan nampaknya memang diciptakan untuk kemudian diperankan Gandindra Bimo dengan amat pas. Aktor berbakat dan humble yang satu ini jarang didapuk sebagai peran utama. Selepas film ini, mestinya para produser dan sutradara semakin melek Ganindra mesti lebih sering di-cast sebagai peran utama.


Selepas 'menemukan' Gading Marten dan mempercayainya sebagai aktor utama dalam Love for Sale, yang ternyata tampil melebihi ekspektasi siapa pun, lewat Pariban, Ucup mengulangi kemampuannya dalam menemukan bakat-bakat yang selama ini kurang diperhatikan sineas lain. Tak hanya Ganindra, tetapi ada juga Rizky Mocil, yang sebelum main di film ini, di skema perfilman tanah air, namanya tak pernah harum. Lihat saja filmografinya, film horor semua, kacangan pula!


Ternyata Rizky Mocil pun bukan aktor sembarangan. Perannya sebagai Binsar, yang tujuannya diciptakan barangkali sebagai karakter lucu-lucuan saja, tetapi Mocil berhasil menghidupkannya sebagai karakter yang memiliki dimensi. Dari pembawaannya, gerak tubuhnya, dan caranya berbicaranya, terlihat bahwa ia tak sekadar akting, tetapi melebur ke dalam karakter. Binsar tak berakhir menjadi karakter yang sepele, walau cupu, jelek, ia masihlah ancaman yang nyata bagi Moan, dan tak bisa disepelekan begitu saja.


Sayang sekali, bakatnya yang besar ini kok baru sekarang terlihat, setelah debutnya di tahun 2008, dan setelah bermain lebih dari 20 judul film! Entah Mocil yang salah bergaul hingga terus-terusan bermain film kacangan, ataukah memang baru kali ini ada sineas yang percaya sepenuhnya kepadanya.


Rukman Rosadi dan Dayu Wijanto juga tampil dengan porsi yang lebih banyak ketimbang film-film mereka sebelum ini. Walaupun keduanya memiliki wajah yang sangat tidak Batak. Rukman yang Jawa banget, dan Dayu yang oriental, bagaimana mau terlihat Batak, hidung mereka kurang merekah, dan garis tulang wajah kurang tegas. Tapi toh saya oke-oke saja. Sebab, begitulah cara aktor yang hebat bermain peran, keduanya mampu menepis keragu-raguan saya dengan pertunjukan permainan watak mereka yang jempolan.


Secara paket lengkap, Pariban masih bukan film yang solid. Sinematografinya tergolong biasa, gambar juga masih belang-belang. Editing-nya jelek, dan yang paling jelek lagi musiknya! Duh, siapa pun penata musik film ini, segera bertobatlah. Honor yang didapatkan dari film ini sebaiknya dipakai untuk modal usaha. Buka warung misalnya.



Atiqah Hasiholan saat di kumparan. Foto: Abil Achmad Akbar/kumparan
Andai saja film ini tak didukung sederet pemain bagus, termasuk Atiqah Hasiholan yang bermain amat lepas, dan tak pernah ia terlihat selepas seperti di film ini sebelumnya, mungkin film ini bakal berakhir lain. Dan sebagai penulis komedi, Ucup cukup maut dalam melawak. Dua kombinasi inilah yang membuat Pariban, terlepas dari segala kekurangannya di beberapa departemen. Cukup berhasil menjadi film yang sangat menyenangkan. Urat-urat tawa kita 'digedor' tiada henti.


Dan, ke-Batak-an yang diangkat film ini, tak berakhir sebagai gimik semata. Ke-Batak-an dalam film ini tampil sebagai karakter tersendiri, sebagai muatan lokal yang betul-betul memiliki nilai, dan diperlakukan dengan penuh penghormatan. Paten lah.