Beritahati.com, Jakarta - Selama libur lebaran, tempat wisata dalam kota Jakarta penuh sesak dengan kunjungan masyarakat. Mereka memanfaatkan liburan dengan merasakan wahana bermain menyenangkan di Taman Impian Jaya Ancol, naik kereta gantung di Taman Mini Indonesia Indah, melihat beragam hewan di Kebon Binatang Ragunan, jalan kaki menikmati suasana Monumen Nasional, sampai naik sepeda wisata di kawasan Kota Tua (Kotu). Bagaimana kalau sekarang mengunjungi Situs Marunda Rumah Si Pitung?


Sebelumnya, orang Jakarta pasti sudah tahu legenda Si Pitung. Konon ia ditakuti sekaligus diburu penjajah Belanda dimana orang Betawi biasa menyebut mereka dengan kompeni (baca; kumpeni), yang diambil dari kata Compagnie.


Selama delapan tahun (1886-1894) Pitung dianggap VOC sudah meresahkan Batavia. Penasehat pemerintah Hindia Belanda urusan Bumiputera, Snouck Hurgronje mengecam habis Kepala Polisi Batavia, Schout Hijne akibat tak mampu menangani serta menangkap Pitung.


Hurgronje naik pitam bukan kepalang, hingga menganggap amat keterlaluan jika seorang Eropa seperti Hijne, kabarnya, sampai harus berdukun untuk menangkap Pitung. Hurgronje menganggap sang kepala polisi sangat tidak terpelajar yang tak mampu memperhitungkan kehadiran alat transportasi yang kerap digunakan Pitung hilir mudik di Batavia.


Yang membuat Hurgronje merah padam hingga berdiri rambutnya, karena setelah ditangkap dengan susah payah pada 1891, Pitung berhasil meloloskan diri dari penjara Meester Cornelis. Tak hanya itu, meneer Hurgronje tambah murka saat mengetahui Pitung masih sempat membunuh Demang Kebayoran yang menjadi musuh para petani Kebayoran serta pernah menjebloskan saudara misan Pitung bernama Ji'ih ke penjara hingga dihukum mati.


Dalam penelitian Margriet van Teel pada 1984, terungkap bahwa polisi Belanda pernah menggerebek rumah Pitung di Rawa Belong, Jakarta Barat, akibat banyak sekali laporan perampokan Pitung yang menyasar para saudagar kaya yang dinilainya bersekutu dengan Belanda. Dalam penggerebekan tersebut, polisi hanya menemukan beberapa keping uang benggolan senilai 2,5 sen yang disimpan dalam bambu.


Padahal, apa yang kerap dirampok Pitung dari para saudagar sekutu VOC itu sangatlah menggiurkan, karena berhasil mengeruk uang, serta emas permata yang tak terhitung jumlahnya.


Berbagai Versi Asal Muasal Rumah Si Pitung


Rumah Si Pitung ini aslinya adalah milik Haji Safiudin, bandar perdagangan ikan. Ada dua versi kisah terkait rumah ini dengan Si Pitung.


Versi pertama, rumah ini pernah dirampok oleh Pitung dan versi kedua, Haji Safiudin menyerahkan sejumlah uang ke Pitung secara sukarela. Konon Haji Safiudin kemudian menjadi mitra kerjanya.


Kemampuan bela diri Si Pitung didapatkannya dari hasil berguru ke seorang ahli tarekat yang juga pandai bermain silat di Kampung Kemayoran. Selama enam tahun Pitung berguru kepada Na'ipin di Kemayoran.


Gurunya ini ternyata memiliki hubungan dengan Mohammad Bakir, seorang sastrawan Betawi akhir abad ke-19. Dari Mohammad Bakir, Guru Na'ipin membangun hubungan dengan jaringan Jembatan Lima yang dipimpim Bang Sa'irin. Di dalam jaringan inilah segala gagasan pemberontakan dan perlawanan sepanjang abad ke-19 digagas.


Suasana Situs Marunda juga begitu tenang, udaranya segar, seperti layaknya suasana Batavia tempo dulu sebelum adanya polusi dan berbagai pencemaran lainnya. Dan juga, jika masuk ke dalam, pihak pengelola hanya membanderol karcis Rp5.000 per orang.


Dengan harga tiket sedemikian ekonomis dan suasana yang sangat nyaman, sepertinya tidak ada hambatan bagi warga Jakarta untuk sesekali mengarahkan kendaraan bersama keluarga ke Situs Marunda Rumah Si Pitung.



Video & Foto : Miechell