Beritahati.com, Kotim - Peristiwa memilukan menimpa seorang gadis kecil berusia 13 tahun di Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bocah perempuan malang tersebut diperkosa bergiliran oleh lima pemuda biadab. Tak cukup sampai disitu, tindakan asusila itu direkam menggunakan video melalui smartphone lantas diviralkan ke media sosial.


Kapolres Kotawaringin Timur (Kotim) AKBP Mohammad Rommel berang bukan main dan langsung memerintahkan pengejaran terhadap para pelaku yang dinilainya sudah di luar batas kemanusiaan.


"Pengungkapan kasus ini berawal dari beredarnya video porno yang menunjukkan pencabulan anak di bawah umur. Polsek dan Polres kemudian menyelidiki dan ternyata benar, sehingga para pelaku langsung ditangkap," kata Kapolres AKBP Mohammad Rommel didampingi Wakapolres Kompol Endro Ariwibowo di Sampit, seperti dilansir Antara, Selasa (18/6/2019).


Pelaku utama berinisial JI, usia lebih dari 18 tahun, dan empat lainnya masih dibawah usia itu. Mereka bersepakat dan melakukan pemerkosaan terhadap gadis malang itu pada 21 April silam di sebuah pondok yang sepi.


Saat kejadian, korban bersama dua rekannya hendak pulang setelah mencari buah dan melintas di sebuah pondok yang saat itu ada salah satu tersangka. Salah satu tersangka sempat berpesan agar korban mampir ke pondok itu setelah mengantar temannya.


Tidak lama kemudian, korban yang masih polos kembali ke pondok itu. Korban dibawa masuk ke pondok yang di dalamnya ternyata sudah ada empat pelaku lainnya, kemudian terjadilah pemerkosaan itu. Satu di antara pelaku sekaligus bertugas membuat video kejadian pilu tersebut.


Anak kecil itu tak sanggup melawan lima laki-laki yang tega melakukan perbuatan hina terhadap dirinya tanpa rasa kasihan. Seusai kejadian, korban pulang dengan ketakutan dan tidak berani menceritakan kejadian pahit yang dialaminya.


Korban menutup rapat nasib dan kesedihan yang dialaminya. Kejadian ini baru terbongkar ketika video pemerkosaan itu menyebar sehingga polisi langsung menyelidikinya pada Sabtu (15/6) lalu.


"Saat itu ayah korban tidak tahu karena anaknya tidak berani melapor. Setelah melalui pendekatan, korban akhirnya mengaku," ungkap Rommel.


Dari lima pelaku, empat orang bisa diamankan, sedangkan satu orang lainnya masih dalam pengejaran. Pengakuan salah satu tersangka, sebelum kejadian itu, mereka menenggak minuman keras tradisional yang disebut 'baram'.


"Para tersangka dikenakan pasal-pasal dalam UU Perlindungan Anak, UU tentang Pornografi karena pembuatan konten dan juga sedang kami selidiki kaitannya dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik kaitannya bagi yang menyebarkan video," tegas Rommel.


Kasus ini ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak karena korban dan sejumlah pelaku masih di bawah umur. Pendampingan juga akan dilakukan, khususnya untuk membantu korban agar secara psikologis tidak terpuruk akibat traumatik kejadian yang menimpanya.