Beritahati.com, Jakarta - Bukan hal aneh bagi orang tua untuk memonitor dunia digital anak mereka yang masih remaja. Karena, hal tersebut memang diperlukan agar tumbuh kembangnya berjalan lancar, tanpa menuju ke arah yang tidak diinginkan.


Bahkan, dilansir dari Verywell Family, survei Pew Research Center mengatakan bahwa sebanyak 61% orang tua memeriksa laman sebuah situs internet yang dikunjungi anak mereka (usia 13–17 tahun).


Jadi, tak usah merasa bersalah jika ingin melihat isi dari ponsel anak remaja Anda. Hal ini khususnya jika si Kecil juga mengalami perubahan sikap, seperti menjadi lebih pemurung, tidak nafsu makan, jarang keluar kamar, lebih agresif dan pemarah, lebih mudah tersinggung, mudah menangis dan sering pulang terlambat.


Jika ternyata benar ada foto, video, atau isi percakapan yang cukup “mengganggu” Anda, cobalah lakukan hal-hal ini agar kondisi menjadi lebih baik dan anak tidak merasa tersinggung.


Tetap tenang
Hal pertama yang wajib Anda lakukan sebagai orang tua adalah tetap tenang. Bila menemukan konten yang cukup mengganggu di ponsel anak, mulailah untuk melakukan pendekatan dengan cara yang tidak menghakimi. Jangan bertanya dengan nada tinggi, apalagi hingga membentak dengan kata kasar atau langsung menunjukkan layar ponsel di depan wajahnya.


Tanyakan baik-baik dan dengarkan jawaban mereka. Mungkin akan sulit bagi mereka untuk berbicara di situasi tersebut, terutama bila itu melibatkan cyberbullying atau sexting. Jadi, cerna dulu sudut pandang mereka, baru berikan masukan agar dia tidak mengulanginya lagi.


Tanyakan, jangan bikin asumsi sendiri
Anda harus menghindari kesalahan yang mungkin pernah dilakukan oleh orang tua zaman dulu, yaitu mendengarkan tanpa melakukan klarifikasi lagi. Jadi, jangan bikin asumsi sendiri tanpa Anda telusuri lebih lanjut. Tetaplah fokus dan hindari membahas masalah lain yang tidak berkaitan.


Tetapkan batasan bersama
Setelah Anda dan anak saling mengetahui, kini saatnya membuat suatu batasan. Hal ini dilakukan untuk memberikan kepercayaan tanpa harus kelewat batas. Misalnya saja, anak diperbolehkan untuk sekadar chatting dengan orang asing. Tetapi, ia tidak boleh sampai mengirim foto seluruh tubuh, apalagi sampai saling bertemu tanpa didampingi.


Jangan langsung mengekang
Anak remaja masih perlu belajar tentang cara menggunakan internet dan media sosial secara bertanggung jawab. Mengekang akses anak terhadap media sosial, internet, atau aplikasi lain dalam waktu yang lama sama saja dengan tidak memberikan ruang untuk belajar.


Ketahuilah, semakin keras larangan terhadap anak remaja, semakin kuat juga keinginannya untuk membangkang atau melakukannya tanpa sepengetahuan Anda. Jadi, jangan langsung membatasi segalanya, ya!


Sebelum menjadi orang tua, Anda juga pernah menjadi seorang remaja. Maka itu, sebelum bertindak, coba bayangkan bagaimana rasanya bila Anda yang berada di posisi anak.


Menurut dr. Nitish Basant Adnani, BMedSc MSc dari KlikDokter, remaja adalah suatu fase yang sangat krusial, karena secara tidak langsung dapat menentukan arah hidup orang yang bersangkutan. Sehingga, Anda sebagai orang tua hanya harus waspada dan memberikan arahan dengan benar tanpa harus cemas berlebihan.


Mengagetkan memang melihat ada konten mengganggu di ponsel anak, apalagi jika anak baru memasuki usia remaja. Tapi, jangan buru-buru marah, apalagi hingga “main tangan”. Cari tahu dulu mengapa konten atau hal tersebut ada di dalam ponselnya, agar nantinya Anda bisa mengatasi masalah hingga ke akarnya.