Beritahati.com, Jakarta - Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhirnya secara resmi telah menetapkan Nurdin Basirun sebagai tersangka. Nurdin merupakan Gubernur Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dengan periode masa jabatan 2016 hingga 2021.


Wakil Ketua KPK Baaaria Pandjaitan saat jumpa pers di Gedung KPK malam ini menjelaskan tersangka Nurdin Basirun diduga menerima suap dan gratifikasi. Nurdin diduga menerima suap terkait dengan izin prinsip dan lokasi pemanfaatan laut, proyek reklamasi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kepri tahun 2018/2019.


Basaria mengatakan “penyidik KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan dan menetapkan empat orang sebagai tersangka, masing-masing NBA (Nurdin Basirun), EDS (Edy Sofyan), BUH (Budi Hartono), dan ABK (Abu Bakar)” jelasnya di Gedung KPK Jakarta, Kamis (11/7/2019).


Basaria Pandjaitan menjelaskan dari 4 terdangka tersebut, masing-masing 3 diantaranya sebagai pihak penerima suap yaitu Nurdin Basirun Gubernur Kepri, Edy Sofyan Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepri; dan Budi Hartono Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap DKP Pemprov Kepri.


“Sedangkan yang diduga sebagai pihak pemberi suap adalah Abu Bakar dari unsur swasta” kata Basaria Pandjaitan.


Nurdin disangkakan menerima suap dan gratifikasi dengan Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12 B Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Sedangkan Edy dan Sofyan disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


Sedangkan Abu Bakar sebagai pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf a atau huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.


Menurut Basaria Nurdin diduga menerima sejunlah uang yang berasal pemberian Abu Bakar melalui perantaraan Edy. Sedikitnya ada dua kali penerimaan yang dicatat KPK, yaitu sebesar SGD 5.000 dan Rp 45 juta pada 30 Mei 2019 serta sebesar SGD 6.000 pada 10 Juli 2019.


Sedangkan untuk sangkaan penerimaan gratifikasi, KPK menyita sejumlah barang bukti dari rumah Nurdin berupa sejumlah uang dalam berbagai pecahan mata uang asing dan rupiah.


“Ditemukan sejumlah barang bukti uang tunai masing-masing SGD 43.942 setara Rp 456.300.319,3, USD 5.303 setara Rp 74.557.528,5, Euro 5 setara Rp 79.120,18, RM 407 setara Rp 1.390.235,83 dan Riyal 500 setara Rp 1.874.985,75 dan Rp 132.610.000.


“Sehingga secara keseluruhan total nilai uang yang disita dari rumah tersangka Nurdin Basirun sebesar Rp 666.812.189,56,” pungkas Basaria Pandjaitan.