Beritahati.com, Jakarta - Masih ingat malware mata-mata Pegasus yang menyerang akun WhatsApp beberapa bulan lalu? Ada kabar kurang sedap nih. Perangkat lunak (software) mata-mata buatan NSO Group dari Israel tersebut telah memiliki peningkatan kemampuan sehingga makin mengerikan. Kenapa mengerikan? Kabarnya, meski malware mata-mata ini sudah dihapus, tetap bisa menyalin data.


Kini Pegasus tak cuma bisa membobol WhatsApp. Software mata-mata atau spyware itu bisa mencuri informasi akun komputasi awan (cloud), di Apple, Google, Facebook, Microsoft dan Amazon. Sebelumnya Pegasus hanya mampu meretas informasi yang ada di iOS dan Android.


Dikutip dari laman Indian Express, yang diberitakan kembali viva pada Selasa 23 Juli 2019, laporan terbaru yang diterbitkan oleh Financial Times menyebutkan, setelah pembaruan spyware, Pegasus kini dapat memanen data di sejumlah server dan cloud. Pengguna kini makin memanfaatkan cloud untuk menyimpan foto, pesan, dan arsip-arsip lainnya.


Menurut laporan, semua informasi pada perangkat bergerak pengguna dapat diretas jika akun mereka diserang Pegasus. Parahnya lagi, pengguna tidak akan mendapat peringatan untuk memverifikasi dua langkah melalui email. Tentu hal ini menimbulkan risiko keamanan dan ada potensi pemilik data tidak sadar datanya tengah dicuri.


Pegasus bekerja dengan cara menyalin kunci autentikasi, kemudian secara mandiri mengunduh seluruh data dan riwayat pengguna saat mereka sedang daring. Tidak hanya Android dan iOS, dilaporkan juga dapat menyebar ke laptop dan tablet.


Meskipun sudah dihapus, mata-mata masih bisa menyebar dan menyalin data. Menanggapi hal ini Google dan Amazon mengatakan, belum menemukan adanya virus ini di servernya. Sedangkan Facebook berjanji akan memeriksa klaim Financial Times. Apple malah tidak percaya Pegasus bisa beredar luas di perangkat konsumen.


Mei lalu, NSO Group dituding menjadi dalang dibalik serangan WhatsApp kepada sejumlah akun. Pegasus bisa terpasang dengan mudah di WhatsApp hanya melalui panggilan telepon saja. Bahkan jika pengguna tidak mengangkat panggilan telepon WhatsApp, mereka akan tetap terinfeksi.


Anak perusahaan Facebook ini kemudian mengeluarkan pembaruan untuk memperbaiki keamanan. WhatsApp kala itu yakin Pegasus menargetkan orang-orang yang bekerja untuk kelompok hak asasi manusia. Atas tuduhan ini, NSO Group telah membantahnya.