Beritahati.com, Yogyakarta - Pertemuan Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subianto dinilai adalah pertemuan bersejarah karena mempertemukan dua nahkoda perpolitikan Indonesia. Pertemuan ini dinilai menjadi awal perwujudan cita-cita nasional.


“Kita sepenuhnya menyambut positif pertemuan dua tokoh yang terjadi hari ini. Pertemuan ini tidak hanya menyambung persaudaraan dan silaturahim, namun ada pesan dan nilai kehidupan politik di dalamnya,” kata Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Rabu (24/7).


Bersuanya dua tokoh nasional yang juga merupakan nahkoda perpolitikan Indonesia menurut Haedar menghadirkan kedamaian dalam kehidupan berpolitik yang dalam beberapa waktu terakhir ini penuh perbedaan dan rekahan.


Haedar sepenuhnya berharap kehadiran dua tokoh dalam satu meja ini akan menjadi jawaban kemana cita-cita Indonesia kedepan dibawa. Tidak hanya itu, kedua tokoh ini juga memberi panutan bagi tokoh politik nasional lainnya untuk lebih bersatu dan bersama dalam keberagaman.


“Kedepan para tokoh politik semakin penuh konsentrasi dan komitmen mensejahterakan rakyat sesuai cita-cita Indonesia yang bersatu dan berdaulat adil makmur,” lanjutnya.


Disinggung mengenai posisi Prabowo yang kemungkinan menjadi oposisi, Haedar melihat hal itu wajar dan sangat diperlukan dalam kehidupan demokrasi sekarang ini. Pemerintah saat ini memerlukan mitra untuk mengkritik, memberi masukkan, dan pengontrol segala kebijakan serta aturan yang dikeluarkan.


Ketiga sikap ini menurut Haedar sepenuhnya bisa dilakukan oleh partai politik, bukan organisasi masyarakat (ormas). Sebab hanya lewat partai politiklah Indonesia bisa bersatu dan berdaulat adil makmur setiap lima tahunnya.


“Sedangkan ormas hanya bisa memberi kekuatan di masyarakat dalam hal mencerdaskan dan mencerahkan secara moral kepada masyarakat,” ucapnya.
Sementara Pimpinan Ponpes Tebu Tebuireng KH Solahudin Wahid memberi apresiasi pertemuan ini, tetapi dirinya tetap meminta ada tokoh atau partai politik yang menjadi oposisi. Ini diperlukan untuk mengawasi jalannya pemerintahan, tetapi tidak dengan mencari-cari kesalahan.


“Oposisi yang baik itu mengkritik sesuai kontruksinya apa yang perlu dikritik. Bukan mencari apa yang perlu dikritik dan mencari untung rugi memberikan kritik. Kritik yang diberikan sepenuhnya untuk membangun bangsa dan negara,” jelasnya.