Beritahati.com, Jakarta - Ministry of Finance Festival (MOFEST) 2019 Pontianak di Auditorium Universitas Tanjungpura, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyajikan diskusi bertema "Never Too Young to Become a Billionaire".


Kepala Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi Kalbar Edward Nainggolan dan Founder dan CEO Men's Republic Yasa Paramita Singgih hadir sebagai narasumber.


Edward memulai diskusi dengan menjelaskan tugas dan fungsi kantor yang dipimpinnya. Sebagai pimpinan unit yang turut mengelola fiskal di Kalimantan Barat (Kalbar), Edward menjelaskan potensi ekonomi Kalbar, khususnya Pontianak.


"Hampir 70 persen penduduk Pontianak, jika dilihat dari demografinya adalah penduduk usia produktif," kata Edward.


Kedua, potensi pertumbuhan ekonomi Pontianak cukup besar, termasuk sebagai daerah perbatasan. Potensi Kalbar, apalagi jika dibungkus dengan ekonomi kreatif, itu sangat besar. Ketiga, di Pontianak ada tiga start-up yang sudah mendunia, yaitu My Agro, Borneo Skycam, dan Angkuts.


Edward menjelaskan tentang pentingnya inovasi, kreativitas, keterampilan komunikasi dan juga networking sangat penting untuk dimiliki generasi muda. Seperti Benny Fajarai, Edward juga mendorong anak-anak muda Pontianak untuk memulai usaha. Apalagi secara rasio, jumlah wirausaha per penduduk masih sangat di bawah rata-rata negara lain.


Sementara itu, Yasa Paramita Singgih berbagi cerita bagaimana dia tertarik dengan entrepreneurship walaupun bukan berasal dari kalangan pengusaha.


"Ayah saya harus menjalankan operasi ketika saya remaja, sehingga setelah itu saya harus mencari uang sendiri," jelasnya.


Yasa telah menjalani beberapa jenis usaha mulai dari lampu hias, kaos, kedai kopi, sebelum memulai usaha memproduksi sepatu. Awalnya Yasa hanya memproduksi lima lusin sepatu. Usahanya terus berkembang, hingga saat ini ribuan pasang sepatu perbulan dapat dihasilkan.


Kepada generasi muda Pontianak, Yasa menekankan bahwa kesempatan berusaha lebih mudah saat ini dengan akses ke pasar yang terbuka lebar dengan online marketplace.


"Pontianak dengan sebutan Kota 1.000 Warung Kopi sangat bisa mengembangkan industri kuliner kopi, seperti di Jakarta," ujarnya.


Dalam sesi ketiga, Yasa juga berbagi beberapa tips bisnis. Pertama, dia menekankan perlunya untuk melihat kebutuhan pasar, bukan mengikuti tren.


"Mengikuti tren tidak akan bertahan lama. Jangan mengikuti tren yang hanya satu dua tahun. Kemudian yang kedua adalah bagaimana menentukan brand ambassador yang tepat untuk produk kita," paparnya.


Rektor Untan Garuda Wiko turut hadir dalam acara MOFEST kali ini. Garuda berpesan bahwa generasi muda perlu menyadari bahwa kita saat ini sudah menjadi warga dunia. Dia mengajak audiens untuk berpikir tidak biasa-biasa saja. Garuda berpesan agar mahasiswa berhenti mengejar indeks prestasi.


Pernyataan tersebut mendapat respons meriah dari mahasiswa. Garuda kemudian menekankan pentingnya untuk tetap memiliki prestasi akademis, namun tidak melupakan kreativitas.


"Kreativitas diperlukan untuk menghadapi tantangan global," katanya.

Di samping tiga sesi penuh inspirasi, MOFEST juga semakin semarak dengan MOEFST-Expo yang menghadirkan Mata Garuda LPDP dan booth jajaran kantor vertikal Kemenkeu di Pontianak. MOFEST 2019 diselenggarakan sebagai upaya edukasi dalam bentuk festival yang pertama kalinya diselenggarakan oleh Kemenkeu. Setelah Pontianak, MOFEST akan dilaksanakan di Kendari, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta.


(Sumber : Kemenkeu RI)