Beritahati, Jakarta - Masyarakat kian meminati jasa Fintech untuk pembiayaan. Terutama bagi pelaku UMKM. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), saat ini terdaftar 127 perusahaan pinjaman daring yang berizin di OJK. Terdiri dari 119 penyelenggara bisnis konvensional dan 8 penyelenggara bisnis syariah.


Hingga Juli 2019, akumulasi jumlah pinjaman daring sebesar Rp 49,79 triliun dengan jumlah outstanding sebesar Rp 8,73 triliun. Sementara itu rekening pemberi pinjaman sebanyak 518.640 entitas dan penerima pinjaman 11.415.849 entitas.


Ketua Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Akumandiri Sulsel Bachtiar Baso mengatakan, pinjam daring melalui fintech saat ini menjadi opsi bagi pelaku UMKM, kala membutuhkan dana cepat.


"Kalau perbankan kan tidak gampang (lolos syarat). Prosesnya juga lama," katanya, Jumat (6/9).


Ia menerangkan, pembiayaan cepat yang dananya tidak sampai puluhan juta, kerap digunakan oleh pelaku UMKM, untuk keperluan bahan baku produksi.


"Tentu saja, kehadiran dana segar yang cepat, itu akan membantu performa pelaku UMKM," terangnya.


Meski demikian, pihaknya juga tetap mengimbau agar pelaku UMKM tidak asal menggunakan pembiayaan daring dari fintech. Sebab aturan main, yakni kewajiban khususnya bunga perlu dipahami secara detail.


"Dalam artian meski mudah, tetap masyarakat perlu cermat mengakses layanan itu," terangnya.


Sementara itu, Direktur Pengaturan Perizinan dan Pengawasan Fintech OJK Hendrikus Passagi memerkirakan kalau kebutuhan pendanaan masyarakat yang tidak terjangkau bank (unbanked) dan underserved setiap tahun mencapai Rp1.000 triliun.


"Mayoritas yang membutuhkan pendanaan ini adalah pelaku UMKM, petani, nelayan, peternak, perajin yang tersebar di kota-kota dan pelosok daerah," bebernya.