Beritahati, Jakarta – Presiden ketiga RI, Bacharuddin Jusuf Habibie kini telah tiada. Bapak bangsa kelahiran Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu meninggal akibat penyakit yang dideritanya di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, Rabu (11/9).


Habibie memiliki kejeniusan dengan segudang prestasi. Salah satu kejeniusannya ketika berhasil menjadi penemu teori kedirgantaran. Hasil penemuan teori Habibie ini pun diakui oleh dunia penerbangan dan dipakai oleh berbagai perusahaan maskapai di dunia.


Adalah pesawat Airbus A-300 yang diproduksi Eropa (European Aeronautic Defence and Space) merupakan contoh dari sentuhan Habibie. Pesawat ini merupakan konsorsium yang tergabung dalam Daimler, produsen Mercedes-Benz yang mengakuisisi Messerschmitt Bolkow Blohm (MBB).


Setelah bekerja di perusahaan penerbangan MBB, Hamburg, Jerman, impian untuk merancang pesawat khusus untuk Indonesia kembali menyeruak.


Impian itu mulai mewujud ketika ketika dirinya mendapat undangan pertemuan bersama Ibnu Sutowo. Direktur Utama Pertamina itu memang sedang mengadakan kunjungan kerja di Jerman. Mereka lantas bertemu pada Desember 1973 di Dusseldorf, Jerman Barat.


Ibnu Sutowo secara sungguh-sungguh akan mengawal impian Habibie. Habibie pun pulang ke tanah air. Ia kemudian berkeliling untuk mepresentasikan ide rancangan pesawatnya kepada berbagai pihak, dari akademisi hingga birokrat. Rencana itu pun terdengar orang nomor satu di Indonesia, Presiden Soeharto.


Soeharto tertarik dengan ide Habibie. Ia lantas mulai mengerjakan rancangannya di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Bertahun-tahun tim kerjanya berjibaku untuk merampungkan pesawat kebanggaan Indonesia.


Rencana pembuatan pesawat kali pertama diketahui publik pada pada Paris Iar Show 1989. IPTN mengeluarkan proyek N250 dengan empat pesawat protipe: Prototype Aircraft-1 (PA), PA-2, PA-3, dan PA-4.


PA-1 diberi sandi Gatot Kaca dengan kapasitas 50 penumpang dan PA-2 bersandi Krincing Wesi.


Penerbangan perdana pesawat itu terjadi saat Habibie menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Pembangunan VII tahun 1995.