Beritahati, Jakarta - Kabar mengejutkan, massa mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) menolak inisiasi Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu pada hari ini, Jumat (27/9).


Mahasiswa menganggap, yang dibutuhkan saat ini bukanlah pertemuan melainkan sikap tegas kepala negara dalam memenuhi tuntutan dan aspirasi kalangan mahasiswa.


"Kami rasa tuntutan yang diajukan telah tersampaikan secara jelas di berbagai aksi dan jalur media. Sehingga sejatinya yang dibutuhkan bukanlah sebuah pertemuan, melainkan tujuan kami adalah sikap tegas bapak Presiden memenuhi tuntutan," dalam keterangan resmi BEM SI ke sejumlah media.


Mahasiswa menilai selama ini, suara mahasiswa pun dianggap tidak banyak dipertimbangkan dalam proses pembuatan kebijakan negara. Hal ini mendorong mahasiswa datang kepada pemerintah menuntut ruang partisipasi bagi suara mahasiswa.


Menurut mahasiswa dalam sejarah lima tahun kepemimpinan Presiden Jokowi, ruang dialog dengan pemerintah sangat terbatas. Aliansi BEM SI pernah diundang ke Istana Negara hanya satu kali pada 2015.


"Akan tetapi, undangan tersebut di ruang tertutup. Hasilnya jelas, gerakan mahasiswa terpecah. Kami belajar dari proses ini, dan tidak ingin menjadi alat permainan penguasa yang sedang krisis legitimasi publik,"


Meski demikian, kalangan mahasiswa tetap membuka ruang sebesar-besarnya untuk bertemu dengan Jokowi dengan beberapa catatan yang harus dipenuhi. Setidaknya, ada dua catatan tersebut.


"Dilaksanakan secara terbuka dan dapat disaksikan langsung oleh publik melalui kanal televisi nasional. Presiden menyikapi berbagai tuntutan mahasiswa yang tercantum dalam Maklumat Tuntaskan Reformasi secara tegas dan tuntas,"


Selanjutnya pihak Mahasiswa Berharap hasil pertemuan tersebut harus menjamin bahwa nantinya akan ada kebijakan yang konkret demi terwujudnya tatanan masyarakat yang lebih baik.