Beritahati, Jakarta – Deputi Bidang Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Yunis Farida Oktoris Triana mengatakan butuh dukungan seluruh pemimpin daerah untuk mewujudkan gerakan desa bersih dari narkoba. Selain itu, fasilitas rehabilitasi bagi pecandu narkoba juga harus ditambah.


Yunis menyebut, saat ini jumlah pecandu narkotika di Indonesia mencapai 3 juta orang. Namun yang baru mendapatkan pelayanan rehabilitasi hanya 10 persen -11 persen atau 30 ribuan.


"Tren penyalahguna narkoba selain karena mereka sudah merasa nyaman dan tidak perlu direhabilitasi (perilaku menyimpang) juga disebabkan jumlah tempat rehabilitasi masih terbatas," ujar Yunis Farida Oktoris Triana, Sabtu (28/9).


Untuk itu BNN gencar melaksanakan layanan berbasis masyarakat untuk mewujudkan desa bersih dari narkoba (bersinar) beserta jajaran terkait seperti Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, dan pemerintah daerah.


"Misalkan orang di pelosok mau rehabilitasi, fasilitasnya ada di kota, kan tidak mungkin. Untuk itu kami jemput bola, ada intervensi dari BNN Kota dan BNN Provinsi untuk mempermudah rehabilitasi. Screening petugas lapangan, menjemput bola melalui klinik dan ada konselor sebagai agen pemulihan," lanjut Yunis Farida Oktoris Triana.


Ia menyebutkan saat ini jumlah tempat rehabilitasi BNN ada di enam lokasi yakni Lido-Jawa Barat, Badokah-Makassar Sulawesi Selatan, Tanah Merah-Samarinda Kalimantan Timur, Kalianda-Lampung, Deli Serdang-Sumatera Utara, dan Batam-Kepulauan Riau.


Dari enam lokasi rehabilitasi BNN itu kapasitasnya hanya 1.850 orang per tahun dengan anggaran rehabilitasi di bawah Rp 100 miliar. "Perlu didukung oleh kementerian dan pemerintah daerah agar proses rehabilitasi bisa didukung oleh swasta dan jajaran pemerintahan daerah," kata Yunis Farida Oktoris Triana.


Sedangkan fasilitas rehabilitasi bagi para pecandu narkotika milik Kementerian Sosial berjumlah sekitar 130. Adapun Institusi Penerima Wajib Lapor yang ditentukan Kementerian Kesehatan berjumlah sekitar 736.


"Puskesmas belum bisa melaksanakan layanan optimal bagi pencandu. Kita sedang membuat standar layanan pembiayaan seluruh Indonesia," tutur Yunis Farida Oktoris Triana.