Beritahati, Jakarta - Partai Gerindra telah membicarakan portofolio kabinet dengan Istana. Bahkan santer terdengar kabar, bahwa Ketua Umum, Prabowo Subianto sudah memberikan komposisi kadernya untuk menjadi menterinya Jokowi.


Kabarnya ada tiga nama yang telah disodorkan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto untuk masuk ke Kabinet Kerja jilid II, yaitu Edhy Prabowo, Fadli Zon, dan Sandiaga Uno.


Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ledia Hanifah memastikan partainya tetap akan menjadi oposisi sesuai dengan keputusan Majelis Syuro, sekalipun Partai Gerindra nantinya merapat ke koalisi pemerintah.


"Sampai sekarang PKS masih tetap berada di luar pemerintahan sebagaimana amanat musyawarah Majelis Syuro," katanya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (10/10).


Namun, ia tetap berharap partai yang dipimpin oleh Prabowo Subianto itu tetap menjadi oposisi pemerintah. Sebab, perlu ada mekanisme check and balances untuk pemerintah dalam kerjanya.


"Dalam politik harus ada fungsi check and balances dan PKS memilih untuk menjadi menjalankan fungsi tersebut," lanjutnya.


PKS sejak awal menasbihkan diri sebagai oposisi pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. Dalam mengambil peran tersebut, dibutuhkan pula dukungan partai lain yang juga mengambil jalan yang sama.


Jika tawaran Partai Gerindra itu benar dan diterima, PKS siap menjadi oposisi tunggal. Sebab, peran tersebut harus tetap ada agar kerja pemerintah bisa diawasi dan kritisi.


"PKS siap memikul beban ini dan yakin akan tetap mampu menjaga kepentingan publik bersama para aktivis kemanusian dan civil society termasuk para mahasiswa dan pelajar," tambah Ketua DPP PKS, Mardani Ali Sera, Jakarta (10/10).


Ia pun menghargai apapun sikap Partai Gerindra ke depannya nanti. Karena, itu merupakan sikap politik yang tak dapat diintervensi oleh pihak luar partai berlambang kepala garuda itu.


"Kita akan tetap bersahabat. Walau tetap berdoa semoga Gerindra bisa bersama PKS menjadi oposisi yang kritis dan konstruktif," tambahnya.