Beritahati, Jakarta - Dari informasi yang dihimpun dilapangan, para penggali kubur di TPU Wakaf belakang SESKOAL Kelurahan Cipulir, Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, kesulitan menggali makam untuk jenazah korban demo pelajar bernama Akbar Alamsyah, Jumat (11/10).


Menurut Uli (40), salah satu petugas penggali makam, penggalian makam dimulai dari jam 06.30 WIB.


"Tanahnya agak keras, biasa kalau kemarau gitu tanahnya kering, jadi agak susah digalinya," celetuk Uli dilokasi.


Uli bersama tiga temannya membutuhkan setidaknya empat ember air untuk mengangkat tanah kuburan yang sudah digali sejak pagi.


Setiap air disiramkan butuh waktu agar air tersebut terserap tanah sehingga penggalian dapat mudah dilakukan.


"Rencana mau dimakamkan jam delapan, tapi udah lebih satu jam belum selesai galinya," kata Uli.


Untuk bisa dimakamkan, liang kubur diperlukan setinggi dada orang dewasa. Hingga pukul 07.45 WIB, kedalaman kuburan masih berada di atas pusar orang dewasa.


Menurut Uli, hal biasa setiap kemarau tanah agak keras digali karena kering. Berbeda dengan musim hujan tanah mudah digali.


"Saya enggak tau jenazah yang mau dimakamkan ini korban demo atau gimana, taunya ini yang mau dimakamkan namanya Alam, ponakannya Pak Matle," kata Uli.


Menurut Uli, lokasi makam ini sesuai permintaan keluarga. Di lokasi serupa juga ada makam paman dari almarhum Akbar.


"Itu makan pamannya, Jumhari, meninggalnya bulan Juni lalu," kata Uli


Hingga berita ini diturunkan petugas makam di TPU Wakaf Cipulir ini masih melakukan penggalian, sementara pihak keluarga masih melakukan proses shalat jenazah di masjid terdekat.


Sekitar pukul 07.30 WIB, sejumlah anggota Polsek Kebayoran Lama tiba di lokasi makam melakukan pengecekan dan mengambil sejumlah dokumentasi.


Korban ricuh dalam demo pelajar, Alamsyah Akbar. telah meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Kamis (10/10) petang.


"Sekitar jam 5," ujar Rosminah saat dihubungi lewat sambungan telepon.


Rosminah mengatakan tidak mengetahui penyebab meninggalnya sang anak.


"Saya kurang terlalu tahu. Saya datang ternyata sudah meninggal," kata Rosminah dengan suara bergetar.


Sebelumnya, demo pelajar di DPR RI yang berakhir ricuh pada Kamis (26/9) menyebabkan banyak korban berjatuhan baik dari sisi pendemo maupun petugas keamanan.


Salah satu yang menjadi korban dalam demo pelajar tersebut adalah Akbar Alamsyah dirawat intensif di CICU RSPAD Gatot Subroto.


Akbar diketahui mengalami retak pada tempurung kepala dan sempat menjalani operasi di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.


Keberadaan Akbar sempat tidak diketahui pascademo pelajar tanggal 25 September 2019 dan baru diketahui pada 28 September 2019 dalam kondisi koma di rumah sakit.


Polisi Bantah Tewasnya Akbar Alamsyah Akibat Kekerasan Aparat
Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Pol Asep Adi Saputra membantah bahwa luka yang diderita oleh Akbar Alamsyah (19) dalam demonstrasi di Slipi, Palmerah, 25 September lalu, disebabkan kekerasan yang dilakukan aparat.


Pasalnya dari hasil penyelidikan, polisi menemukan bahwa diduga Akbar menghindari kerusuhan dengan melompat pagar di dekat Kompleks DPR MPR dan terjatuh.


"Kami menemukan saksi (yang melihat) yang bersangkutan (Akbar) jatuh saat melompat pagar. Sementara dugaannya yang bersangkutan luka bukan akibat kekerasan, tapi karena insiden itu (jatuh dari pagar)," kata Kombes Asep di Jakarta, Selasa (8/10).


Polri telah membentuk tim investigasi gabungan untuk mengusut dugaan kekerasan yang terjadi pada penanganan unjuk rasa berujung kerusuhan di Gedung DPR.


"(Tim terdiri) ada Bareskrim, Propam, Itwasum dan Polda Metro Jaya. Tim menyelidiki mengapa peristiwa itu (dugaan kekerasan) terjadi," ucapnya.


Ia tidak merinci jumlah personel yang tergabung dalam tim investigasi ini dan lama waktu tim bekerja.


Tim investigasi ini bertugas menyelidiki penyebab luka para korban kericuhan, termasuk mahasiswa Universitas Al Azhar Indonesia, Faisal Amir (21) yang menderita perdarahan otak, Akbar Alamsyah yang sempat mengalami koma dan Maulana Suryadi (23) yang meninggal dunia serta sejumlah korban luka lainnya.


Sebelumnya demonstrasi mahasiswa terkait penolakan revisi UU KPK dan RKUHP di Gedung DPR/MPR Jakarta berujung ricuh pada 23-24 September 2019.


Kemudian aksi demonstrasi susulan dilakukan oleh para pelajar SMK pada 25 September 2019 yang juga berakhir ricuh.


Pada 30 September, demonstrasi kembali dilakukan para mahasiswa dengan kelompok buruh.